OPINI  

Darurat Geng Motor

Oleh Heru Muhtar
Pengurus Cabang PMII Kota Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya merupakan kota yang mempunyai julukan kota santri, bisa kita buktikan dengan banyaknya pondok pesantren yang tersebar di beberapa wilayah di Kota Tasikmalaya. Namun hal tersebut tidak berbanding lurus dengan realitas sosial. Karena sering kali terjadi tindakan kekerasan, tindakan penganiayaan dan masih banyak tindakan melawan hukum lainnya.

Belakangan ini Kota Tasikmalaya kembali dikejutkan dengan adanya peristiwa penusukan kepada masyarakat, perusakan dagangan warga hingga perusakan rumah warga oleh sekelompok berandalan motor atau sering kita sebut geng motor. Peristiwa geng motor sering kali terjadi di Kota Tasikmalaya. Tindakan geng motor yang membabi buta itu dalam melakukan aksi brutalnya sering kali menyerang kepada masyarakat yang sendang melintas dijalanan.

Beberapa hari kebelakang berita dan video viral di media sosial yang memperlihatkan penyerangan geng motor ke warga. Tentu hal tersebut menimbulkan kondisi sosial yang tidak nyaman dan tidak aman. Geng motor menimbulkan keresahan di masyarakat, maka ketika mendapati adanya geng motor di lingkungannya saking geramnya masyarakatpun berbuat dengan caranya sendiri dengan main hakim sendiri.

Menyikapi kejadian tersebut Kapolres Tasikmalaya Kota ngambil tindakan tegas tembak di tempat. Dengan langkah tersebut akan berisiko hilangnya nyawa orang/masyarakat. Alangkah baiknya cari alternatif lain dalam mengambil tindakan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Apapun kebutuhannya jika melalukan penembakan terhadap civil society itu tidak bisa dibenarkan. Namun di sini pemerintahpun jangan menutup telinga dan menutup mata dalam keadaan Kota Tasikmalaya darurat geng motor.

Pemerintah harus mengambil tindakan cepat dan tepat dengan melakukan hubungan kolektif dengan pihak Polri, TNI, dan dinas terkait. Semisal Dinas Pendidian, Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Sosial dan Kesbangpol dalam upaya untuk merumuskan langkah yang solutif dan kongret.

Usia pelajar

Kita lihat mereka anggota geng motor merupakan para remaja yang rata-rata usia SMP sampai SMA. Maka ini menjadi peran Dinas Pendidikan harus memberikan edukasi dengan cara roadshow kesetiap sekolah-sekolah. Karena mereka merupakan kalangan remaja masih dalam masa pencarian jati diri maka perlu pemerintah arahkan dan selamatkan masa depan mereka.

Karena tak sedikit remaja hobi terhadap dunia otomotif namun sering kali mereka juga melakukan perkelahian. Maka dinas pemuda dan olahraga mempunyai peran penting. Pertama harus mengakomodir terebih dahulu para kalang remaja yang mempunyai hobi di dunia otomotif atau yang hobi bela diri. Di sinilah mereka harus di-support dengan cara diarahkan dan diasah supaya potensi yang dimilikinya bisa berkembang.

Peristiwa geng motor merupakan gejala sosial yang terjadi masyarakat sehingga hal tersebut menjadi permasalahan serius yang harus dituntaskan. Remaja yang hari ini ikut bergabung kedalam geng motor dampak dari adanya interaksi sosial salah. Maka perlu adanya peran dinas sosial semisal mengadakan bakti sosial dengan kalangan muda dengan melibatkan karang taruna di dalamnya.

Selanjutnya perlu adanya edukasi dengan cara mengadakan acara seminar perihal penyadaran hukum sejak dini. Dengan tujuan supaya mereka paham tindakan mereka yang berdampak terhadap pelanggaran hukum. Terus berikan juga pemahaman kepada anak usia SMP dan SMA mengenai hidup sehat tanpa narkoba. Karena narkoba menjadi salah satu penyebab yang dapat mengakibatkan para remaja melakukan tidak melawan hukum.

Maka persoalan geng motor ini menjadi PR besar untuk Pemerintah Kota Tasikmalaya. Sementara penggunaan APBD lebih memprioritaskan membangun proyek infrastruktur biar telihat estetik. Tapi hal lebih krusial mengenai pembangunan suprastruktur tidak dimaksimalkan padahal membina generasi muda itu sangat penting. Percuma kotanya terlihat rapih, kalau pola generasi mudanya rapuh. Percuma kotanya cantik, kalo generasi mudanya sakit.***