OPINI  

Kewarasan Perempuan Tidak Hanya Dari Kekuatan Iman

Oleh Ipa Zumrotul Falihah
Aktifis Perempuan, Direktur Yayasan Taman Jingga

Serasa ditampar keras ketika beberapa hari ini saya membaca berita di berbagai media akan kejadian di Brebes. Seorang ibu yang tega meregang nyawa anaknya yang dia lahirkan dengan cara digorok seperti memotong hewan. Dari ketiga korban hanya satu yang meninggal dan dua lagi masih dalam perawatan.

Terhenyak kaget bukan kepalang, sesak dada ini karena saya juga adalah seorang ibu yang mengasuh 4 anak seusia anak ibu tersebut. Merinding dan jadi bahan tafakur untuk kita semua.

Mungkin ini hanya contoh kejadian yang terungkap tentang luka batin seorang ibu yang lama terpendam tanpa ada teman berbagi cerita untuk menenangkan rasa gundahnya.

Ada banyak lagi luka batin ibu-ibu yang lain yang tidak berani bicara di luar sana. Hanya bisa memendam seorang diri yang jika dibiarkan bisa menjadikan mentalnya rapuh dan berakibat fatal apabila tidak disembuhkan.

Seandainya saya ada dekat dengannya di Brebes, ingin sekali memeluknya, mendengarkan keluh kesahnya, mencoba menenangkannya dan sedikit menjadi sandarannya.

Biarkan dia menangis menumpahkan segala lara di hati agar tak terpendam dan menjadikan merasa kesepian seorang diri.

Dia butuh teman berbagi cerita, dan sudah pasti pula butuh motivasi untuk menguatkan dirinya yang tengah diuji oleh masalah kehidupan. Yang tentu masalah setiap orang ada dengan berbeda-beda jenis dan kategorinya.

Banyak video yang beredar rekaman dari di dalam jeruji besi dan rilis media, dia bilang “tidak ingin anaknya merasakan kesusahan dan bentakan yang dialaminya”.

Pikirannya buntu dan mentalnya kena lalu mengambil cara singkat yang tentu adalah perbuatan kriminal, sungguh malang nasibmu ibu.

Saya yakin engkau tidaklah jahat, hanya saja nuranimu dan akal sehatmu sudah tidak bisa mencerna dengan baik. Akibat robohnya benteng pertahanan yang kau upayakan agar kuat tapi ternyata rapuh.

“SAYA HANYA INGIN DISAYANG!” begitu dalam rekaman video ucapnya dengan binar mata yang begitu kosong dan seketika hatiku sakit. Ia hanya ingin disayang. Sederhana pintanya, namun berimbas sangat fatal pada faktanya.

Pikiran tak lagi jernih, anak-anak disakiti lahir batin. Depresi semakin diperparah oleh trauma masa lalu, inner child namanya. Inner child terbentuk dari pengalaman saat masih anak-anak.

Inner child bisa digambarkan sebagai bagian dari diri kita yang tidak ikut tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak. Artinya, bagian ini terus menetap dan bersembunyi di dalam diri kita.

Bagian ini menggenggam erat setiap ingatan dan emosi yang pernah kita alami saat masih kecil, baik yang indah maupun yang buruk.

Sayangnya, hal ini kemudian juga menyerap setiap energi negatif. Baik berupa perilaku maupun ucapan dari orang yang kita anggap seharusnya dapat memberikan rasa aman.

Saat inner child terluka, ia akan memengaruhi kita sebagai orang dewasa dalam mengambil keputusan dan menjalani hubungan dengan orang lain. Inner child merupakan salah satu komponen pembentuk karakteristik dari diri kita.

Maka penting kita memahami tentang Inner child agar bisa mengantisipasi hal ini. Ketika sekarang kita sedang dalam masa pengasuhan anak-anak kita. Agar anak-anak kita merasa aman nyaman dan tidak membawa luka batin sampai dewasa.

Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Qualitative Studies in Health and Well-being, bahwa pengalaman di masa lalu dapat memberikan pembelajaran yang bermanfaat untuk jangka panjang, hingga kita tua nanti.

Oleh sebab itu, cobalah untuk berdamai dan bersatu dengan inner child untuk hidup yang lebih baik .
(hellosehat.com Annisa Hapsari Feb 11, 2021 Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri ).

Selain itu dalam kejadian bu KU, adanya luka batin akibat bentakan dari pasangan yaitu suaminya. Sedalam itukah luka batin akibat bentakan, maka sudahkah suami-istri saling menyayangi?

Tanyakan pada pasangan. Sungguh sebegitu pentingnya rasa sayang dan cinta demi keutuhan keluarga dan demi kewarasan dalam mengurusi rumah tangga.

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik.”

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Penggalangan Surat An-Nahl ayat 72 dan Ar-rum ayat 21 memiliki makna kebesaran Allah. Apalagi Allah sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, mempunyai rasa cinta dan merasa tenteram setelah disatukan ikatan pernikahan. Diberi rasa cinta dan kasih sayang.

Dengan begitu, keduanya harus saling membantu untuk mewujudkan rumah tangga yang harmonis. Hilangnya kasih sayang bahkan sanggup membuat seorang ibu hilang akal.

Maka kisah ibu berinisial KU menjadikan alarm kepada kita semua juga relasi suami-istri. Hendaknya memperhatikan bukan hanya sandang pangan dan papan tapi juga psikis pasangan. Penangkal jahanamnya setan yang siap menggoda merusak rumah tangga.

Semoga tidak ada lagi yang begini, dan hikmah dari kejadian ini agar para suami semakin peka terhadap para istrinya. Juga kita semua semakin peka lingkungan dan terhadap masalah perempuan yang ada di sekitar kita.

Karena support system dari sesama perempuan orang terdekat sangat penting selain dari pasangan masing masing. Dari kejadian ini kita belajar, kepekaan hati sesama pasangan, di antara keluarga, anak istri dan juga suami perlu. Kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.

Diakui atau tidak, setiap wanita berbeda kekuatannya dan berbeda dalam menyikapi masalah kehidupannya. Dan ternyata bentakan suami kepada istri sangat fatal terhadap mental istri. Juga luka batin di masa kecil tergores kuat dibatin anak sampai dewasa salah satu buktinya ibu KU ini.

Dia mengaku terluka sejak kecil sering dikurung ibunya dan diabaikan keluarga besarnya. Serta dibentak oleh suaminya padahal dia butuh ditenangkan, butuh didengar dan dihargai. Juga butuh ada teman berbagi untuk menenangkan apa yang bergejolak dibatinnya.

Bu.. para ibu di manapun berada. Jika kau lelah istirahatlah, jika kau butuh bantuan segera carilah, jika kau ingin didengar bicaralah. Jangan pendam ibu, kau terlalu berharga untuk dirusak mentalnya ada anak-anak yang butuh kita para ibu.

Akan tetapi sebelum menguatkan anak kita terlebih dahulu yang harus kuat duluan. Carilah kekuatan itu dari kedekatan kita dengan pencipta, kejernihan pikiran, kejernihan hati, dukungan pasangan, dukungan keluarga dan dukungan orang sekitar.

Maka dalam upaya mengantisipasi hal- hal yang tidak diinginkan, pondasi kekuatan doa bisa menjadi kekuatan dan jadi afirmasi positif dalam kehidupan semua keluarga.

Saya tidak mau menghakimi seorang yang terluka batin seperti ibu KU ini kurang iman. Hal-hal religi kedekatan kita dengan pencipta itu memang penting agar menjadi kekuatan iman. Selain kekuatan iman, luka batinpun butuh disembuhkan tidak hanya oleh dirinya sendiri.

Butuh dukungan orang di sekelilingnya agar luka batin tidak menumpuk dan meledak serta berakibat fatal. Maka jadilah perempuan yang peduli dengan perempuan yang lain yang jadi support system yang baik untuk kewarasan sesama perempuan. ***