SUMEDANG,KAPOL.ID – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumedang ke-448 bukan sekadar seremoni angka yang berulang setiap tahun. Bagi SMPN 2 Conggeang, momentum ini adalah titik balik untuk merefleksikan peran sekolah sebagai “penjaga gerbang” peradaban.
Kepala SMPN 2 Conggeang,Iloh Tusilah, S.Pd menegaskan bahwa pendidikan di era modern bukan hanya tentang kompetensi akademik, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk menenun kembali benang-benang kearifan lokal ke dalam sanubari para siswa.
Dalam narasinya, Bu Iloh menekankan bahwa filosofi leluhur “Insun Medal Insun Madangan” (Aku lahir untuk memberi penerangan) harus menjadi ruh dalam setiap denyut kegiatan belajar mengajar. Di usia Sumedang yang kian matang, sekolah diposisikan sebagai “Kawah Candradimuka” yang menggodok generasi agar tak hanya cerdas secara logika, tetapi juga menjadi lentera bagi masyarakat.
“Kebudayaan dan pendidikan adalah dua sayap yang harus dikepakkan secara bersamaan. Di SMPN 2 Conggeang, kami memaknai milangkala ke-448 ini sebagai pengingat: setinggi apa pun lompatan teknologi yang diraih siswa, akar mereka harus tetap menghunjam dalam pada tanah budaya Sunda,” tutur beliau dengan penuh penekanan..Jum’at ( 17/4).
Menghadapi masa depan Sumedang, pihak sekolah menitikberatkan pada tiga pilar utama transformasi karakter yang menyelaraskan kurikulum nasional dengan nilai lokal:
Revitalisasi Etika (Nyunda): Menghidupkan kembali tradisi Sompérak, Hormat, dan Embut. Ini bukan sekadar tata krama, melainkan benteng pertahanan agar identitas diri siswa tidak luntur atau tercerabut di tengah arus pergaulan global yang kian tanpa batas.
Akselerasi Digital (Nyakola): Sejalan dengan visi Sumedang Digital Region, siswa dipacu untuk cakap teknologi. Namun, Kepala Sekolah menegaskan bahwa literasi digital harus digunakan sebagai alat untuk mengamplifikasi dan mempromosikan keunggulan daerah ke kancah lebih tinggi
Ketahanan Budaya melalui Literasi Sejarah: Mengangkat kemegahan sejarah Kerajaan Sumedang Larang sebagai materi inspirasi. Tujuannya jelas: menanamkan rasa bangga (pride) agar siswa memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab moral terhadap kemajuan tanah kelahirannya.
Lebih jauh, Kepala Sekolah SMPN 2 Conggeang ini menyampaikan tantangan besar dunia pendidikan adalah mencetak lulusan yang memiliki kepekaan sosial tinggi, selaras dengan semangat para pendahulu Sumedang. Pendidikan di Conggeang tidak boleh hanya menghasilkan “mesin penghitung”, melainkan manusia yang peka terhadap kondisi sekitarnya.
“Harapan kami, di hari jadi ke-448 ini, SMPN 2 Conggeang mampu melahirkan profil Manusia Masagi. Sosok yang memiliki keseimbangan utuh antara ketajaman intelektual, kelembutan budi pekerti, dan keteguhan iman. Itulah kado terbaik yang bisa kami berikan untuk masa depan Sumedang,” tambahnya.
Usia 448 tahun adalah simbol kematangan sejarah, dan bagi para siswa, sejarah tersebut harus menjadi cermin sekaligus pemacu semangat untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan bermartabat.
“Selamat Hari Jadi Sumedang ke 448. Sumedang Simpati,Sumedang Membumi” (Guh)






