Oleh: Novi Enur Hasanah, S.Pd.
KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Selasa, 2 Juni 2026. Kalender di dinding ruang guru itu seolah berdetak lebih lambat dari biasanya, seakan ikut enggan mengantar detik-detik yang kian menipis. Hari itu, gerbang SMPN 1 Conggeang saksi bisu dari akhir sebuah perjalanan panjang selama tiga tahun menimba ilmu. Di bawah langit Juni yang teduh, tangis, tawa, haru, dan bangga melebur jadi satu dalam sebuah dekapan perpisahan bertajuk NIRVATA.
Tiga tahun lalu, mereka datang bagai lembaran kertas putih yang polos. Langkah kaki mereka yang kecil dan ragu pertama kali menapak di halaman sekolah ini, membawa sejuta cemas dan harapan. Hari ini, kertas-kertas putih itu telah penuh coretan tinta emas cerita tentang perjuangan, persahabatan, patah semangat yang bangkit lagi, hingga kedewasaan yang perlahan mekar.
Kepala SMPN 1 Conggeang, Bapak Adang Rohendi, S.Pd., menatap ratusan pasang mata yang duduk berjejer di halaman sekolah dalam foto bersama berspanduk burung hantu raksasa itu. Sorot matanya adalah perpaduan antara seorang nakhoda yang berhasil membawa kapalnya ke dermaga tujuan, sekaligus seorang ayah yang berat melepas anak-anaknya pergi merantau.
Dalam untaian kalimatnya, beliau menegaskan bahwa perjalanan tiga tahun ini bukanlah sekadar rutinitas mengejar angka-angka di atas rapor.
“Sekolah ini bukan hanya tempat dinding-dinding batu bertukar materi pelajaran. Sekolah ini adalah rahim tempat karakter kalian dibentuk dengan kasih sayang. Nirvata sebagaimana nama yang kalian usung adalah simbol kebebasan jiwa yang bertanggung jawab, tempat kalian terbang tinggi layaknya rajawali namun tetap memiliki sarang tempat pulang,” tutur Pak Adang Rohendi dengan nada suara yang bergetar menahan haru.
Kata-kata beliau bak gerimis di tengah kemarau, membasahi hati siapa saja yang mendengar. Ada rasa sedih yang menyelinap halus di dada kami para pendidik.Sedih karena koridor sekolah takkan lagi bising oleh gelak tawa mereka, kelas-kelas akan merindukan riuh diskusi mereka, dan lapangan upacara akan merindukan langkah tegap mereka.
Namun, di atas rasa sedih itu, membubung tinggi rasa bahagia dan bangga yang tak terukur. Kami bangga melihat mereka lulus bukan hanya sebagai siswa, melainkan sebagai pribadi yang matang.Nirvata adalah jalinan kasih sayang. Ia menjadi saksi bagaimana para guru memahat sabar di setiap pagi, dan bagaimana siswa merajut mimpi di setiap siang. Di sinilah kisah sedih, bahagia, dan terharu bermuara menjadi satu simfoni perpisahan yang megah.
Bagi seluruh siswa Kelas IX SMPN 1 Conggeang yang telah resmi lulus, dengarlah pesan ini: Dunia di luar sana adalah lautan lepas yang ombaknya kadang tak ramah. Namun, jangan pernah gentar. Bentangkan sayap Nirvata-mu.
Terbanglah setinggi yang kau bisa, gapai bintang-bintang di langit cita-citamu. Tapi ingat, sejauh apa pun angin membawamu pergi, jangan pernah lupakan tanah Conggeang tempat akarmu bertumbuh. Jaga nama baik almamater, jadilah pelita di tengah kegelapan, dan tetaplah rendah hati sedalam samudra.
Selamat jalan, anak-anakku. Selamat melangkah ke gerbang masa depan. Tiga tahun yang lalu kita memulai dengan senyuman, dan hari ini kita mengakhirinya dengan air mata kebahagiaan.Nirvata akan selalu menjadi rumah, dan kalian akan selalu menjadi kebanggaan yang abadi di hati kami.***
(Guru SMPN 1 Conggeang Sumedang)






