Merinding, Bordir di Kawalu Lebih Mahal Ketimbang di Tanah Abang

  • Bagikan
Ridlwan Nurfaozan bersama Acep Zamzam Noor saat bedah buku Antologi Puisi 15 Penyair Indonesia: Bordir Umayah untuk Tasikmalaya, Sabtu (21/8/2021)

KAPOL.ID – Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Ridlwan Nurfaozan, mengungkap kondisi objektif perkembangan industri kreatif bordir di Kota Tasikmalaya.

Di sektor pariwisata, apa yang kita punya? Apa yang sudah didapat? Menurut Ridlwan ada yang bisa menjadi tolak ukur sampai saat ini. Pariwisata erat kaitannya dengan kebudayaan.

“Jangan dulu berbicara ekonomi, karena di Kota Tasik, tugas yang paling utama adalah bagaimana budaya atau kearifan lokal bisa terus dilestarikan. Salah satunya bordir,” katanya.

Bordir, kata Ridlwan, masuk dalam inventarisasi budaya Kota Tasikmalaya. Cuma menjadi anomali.

“Jangan dulu berbicara masyarakat luar. Di wilayahnya sendiri, di Kawalu. Sudah terjadi penurunan. Banyak sekarang para perajin bordir bertani lagi,” katanya.

Ketika ditelaah apa yang salah? Apa yang terjadi? Apakah kita menyalahkan pasar yang ternyata bordir di Kawalu lebih mahal ketimbang di Tanah Abang.

“Saya merinding. Ini apa yang terjadi? Bordir dibuat di Kawalu. Tapi harga di Tanah Abang lebih murah?” ujarnya.

Ternyata paradigma perajin sudah pada titik, bordir adalah materi. Padahal, menurutnya, bordir adalah budaya kearifan lokal yang harus dijaga.

“Saya sepakat untuk membuat sebuah monumen literasi. Ini bukan sekadar hanya buku. Tapi adalah monumen. Ketika artefak sulit dicari, sejarah sulit dicari. Ya kita buat. Kita tulis. Kita catat,” katanya saat peluncuran buku Antologi 115 Penyair Indonesia: Bordir Umayah untuk Tasikmalaya, di Hotel Amaris Kota Tasikmalaya, Sabtu (21/8/2021).

Ridlwan merencanakan pada tahun 2022 Perda tentang Budaya dan Pariwisata akan dibahas. “Sudah saatnya. Hari ini kita merencanakan itu,” katanya seraya menambahkan tidak hanya bordir, banyak sektor lain yang bisa dikembangkan.

  • Bagikan