KANAL

Program Baznas Goes To School Dievaluasi, Terbentuk 999 UPZ Sekolah

×

Program Baznas Goes To School Dievaluasi, Terbentuk 999 UPZ Sekolah

Sebarkan artikel ini
Ketua Baznas Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas.*

KAPOL.ID – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumedang menggelar pertemuan dengan para guru sekolah se-Sumedang.

Mereka diantaranya, para guru SD/MI, SMP/MTs dan MA/SMA. Tujuannya, dalam rangka mengevaluasi program inovasi Baznas, Gerakan Infak Dua Ribu Program Baznas Goes To School.

Pertemuan, bertempat di Aula Tampomas Pemerintah Pusat Sumedang, Rabu, 21 Februari 2024.

Ketua Baznas Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas mengatakan itu merupakan evaluasi terhadap program inovasi Baznas yang diluncurkan pada bulan oktober tahun lalu.

“Program Baznas Goes To School ke sekolah-sekolah untuk melakukan penghimpunan, bahkan penyaluran di lingkungan sekolah masing-masing. Dan, alhamdulillah dari mulai program digulirkan sudah terbentuk 999 UPZ Sekolah dan dana yang disebar ada sekitar 1,6 miliar,” ucapnya.

Dan, kata dia, itu sudah dengan penyaluran dengan CPCL nya.

“Hari ini kami kumpulkan untuk lebih memantapkan program kedepannya. Karena masih sebagian sekolah beranggap itu program satu putaran selesai,” ucap dia.

“Ini program berkelanjutan selama program itu memang dibutuhkan di sekolah. Silahkan kita laksanakan bersama-sama tetap komitmen, kita hanya menyiapkan perangkatnya saja,” ujar dia.

Terkait uang yang dihimpun di sekolah infak dan sedekah itu termasuk penyalurannya 100% dikelola oleh UPZ sekolah masing-masing.

“Jadi ke Baznas itu sifatnya laporan tertulis yang akan dijadikan penilaian kinerja kami terkait dengan pengelolaan zakat Kabupaten Sumedang,” kata dia.

“Cara penyalurannya kita sudah ada juklak juknis memang Karena program Baznas Goes To School itu taglinenya dari kita untuk teman kita, itu sebagian besar diperuntukan untuk mengatasi permasalahan siswa-siswa,” ucap dia.

“Saya lihat di pelaporan yang tahap pertama bagaimana dari program tersebut ada bantuan untuk baju, bantuan untuk tas, bantuan untuk sepatu, bantuan ongkos untuk siswa yang tidak mampu, kemudian ada foto yang sedang sarapan bersama di sekolah bagi siswa yang tidak punya sarapan, ada program cukur bareng di sekolah yang siswa tidak punya butrak betruk,” ujarnya.

Alhamdulillah respon dari para pengelola UPZ luar biasa positif terkait dengan program ini.

“Saya berharap ini bisa bertahan dan bisa meningkat sehingga kemanfaatannya lebih luas lagi,” ucap dia.

Terkait dengan program sajadah (sampah jadi sedekah), pihaknya bekerja sama dengan bank sampah.

Artinya, mencoba juga memberikan ruang kepada siswa untuk melakukan kebaikan lain memanfaatkan barang bekas yang ada di rumahnya yang memang bisa dijual kita namakan programnya sajadah.

“Sajadah, jadi sedekah saya sudah bekerja sama dengan salah satu bank sampah di Sumedang. Nanti kita akan mengumpulkan sampah dari siswa di sekolah masing-masing kemudian diangkut oleh pengepul dan uangnya langsung dibayar ke sekolah bukan lagi ke baznas untuk tambahan kegiatan Baznas Goes To School sekolah masing-masing,” ujarnya.

Kami hanya memfasilitasi saja mungkin tempat sampahnya atau ruang supaya ketika sampah dikumpulkan sekolah tidak menjadi kumuh tetap menarik tetap indah kita siapkan tempat sampah dan lain sebagainya.

“Ketika di evaluasi ini, memang ada mis komunikasi dan itu wajar. Karena dengan sosialisasi dengan Kepala sekolah yang melaksanakan UPZ sudah clear dan memang memang sedikit mis komunikasi salah satu itu tadi yaitu kegiatannya satu kali selesai mereka tidak minta kupon lagi,” ujar dia.

Alhamdulillah, sebagian besar mau melanjutkan kembali program ini.

Karena banyak yang merasakan. kalau kemarin kan mis komunikasinya kepala sekolah menyangkanya itu program hanya satu putaran udah aja begitu.

“Ternyata ketika ini bermanfaat untuk bisa lanjut ya lanjut. Program ini berangkat sejak bulan Oktober 2023 berangkat dari permasalahan-permasalahan yang datang kebaikan ada siswa yang tidak punya seragam,” ujarnya.

Dikatakan, apalagi sekarang musim hujan seperti ini tidak punya cadangan kemudian kita belikan.

“Bikin surat ke Baznas waktunya diproses lama, ya sudah kita pergi program nyari duit di sekolah bagikan di sekolah  dengan tidak menyalahi peraturan-peraturan perundang-undangan yang ada,” ujar dia.

“Dalam evaluasi ini, kita matangkan terkait dengan tata caranya. Itu salah satunya mereka itu berpikiran satu putaran saja padahal terus berlanjut,” kata dia.

“Saya lihat dari 999 itu yang baru masuk di laporan 63% diantaranya dari Disdik dan Kemenag 17%,” ujarnya. ***