KABAR PRIANGAN ONLINE – Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Conggeang tengah gencar melaksanakan program penghijauan demi mengembalikan kejayaan ekologis kawasan hutan Perhutani.
Tidak tanggung-tanggung, BKPH Conggeang saat ini sedang memfokuskan pemeliharaan pada 322 ribu bibit pohon jati. Langkah strategis ini merupakan bagian dari mega-proyek sentral pembibitan se-KPH Sumedang yang menargetkan total 332 ribu bibit pohon jati.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Conggeang, Agus Kuswandi, menyampaikan bahwa proses dari awal persemaian hingga menjadi bibit yang siap tanam memerlukan waktu kurang lebih 4 bulan. Selama periode tersebut, seluruh bibit dirawat secara intensif di area persemaian agar memiliki kualitas unggul dan daya tahan yang kuat saat dipindahkan ke lahan terbuka.
“Menyemai jati itu bukan sekadar menanam biji ke dalam tanah, melainkan sedang menanam harapan untuk anak cucu kita puluhan tahun ke depan. Kami merawatnya seperti merawat bayi; penuh ketelitian selama empat bulan ini agar akarnya sehat dan batangnya kuat,” ujar Agus Kuswandi saat memantau perkembangan bibit.
*Inovasi Stek Pucuk: Pangkas Masa Siap Tebang*
Ada yang berbeda dari metode pembibitan kali ini. Guna menghasilkan tegakan yang berkualitas tinggi dalam waktu yang lebih efisien, BKPH Conggeang menerapkan metode stek pucuk.
Melalui inovasi teknologi ini, masa tunggu pohon jati hingga siap tebang dapat dipangkas secara signifikan. Jika pohon jati konvensional membutuhkan waktu puluhan tahun, jati hasil stek pucuk ini diproyeksikan sudah siap panen dalam kurun waktu 15 hingga 20 tahun saja.
*Disiplin Alam: Penanaman Fokus di Musim Hujan*
Terkait waktu pemindahan ke lahan (transplantasi), Agus Kuswandi menegaskan bahwa faktor momentum cuaca menjadi kunci utama penentu keberhasilan tumbuh kembang pohon jati. Pihak manajemen secara ketat menjadwalkan proses penanaman di lahan Perhutani akan dilakukan pada musim penghujan, yaitu sekitar bulan September hingga Oktober.
Langkah ini diambil untuk menghindari risiko tinggi kematian bibit akibat kekeringan. Menanam pohon jati muda di musim kemarau dinilai sebagai tindakan yang tidak rasional dan bisa memicu kegagalan massal.
“Di bidang kehutanan, disiplin terhadap waktu dan alam adalah hukum mutlak. Menanam 322 ribu jati di musim kemarau itu sama saja dengan menyerahkan mereka pada kematian. Kita tunggu hingga bumi basah oleh hujan September-Oktober. Fase empat bulan di persemaian ini adalah bekal utama mereka agar saat menyentuh tanah Perhutani nanti, mereka langsung mencengkeram kuat dan tumbuh menjadi benteng hijau,” tambah Agus.
*Berdayakan Warga, Sinergi Kuat Bersama LMDH Rimba Jaya*
Program penghijauan ini tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membawa berkah ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar hutan, khususnya di wilayah Desa Cipelang. Dalam pelaksanaannya, Perhutani BKPH Conggeang menggandeng Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Rimba Jaya untuk bersinergi secara aktif.
Ketua LMDH Rimba Jaya Desa Cipelang, Yugo
Setiawandi, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas keterbukaan Perhutani yang selalu melibatkan masyarakat setempat dalam setiap prosesnya.
“Alhamdulillah, LMDH Rimba Jaya selalu dilibatkan dan kami bersinergi dengan sangat baik. Adanya program penghijauan penanaman jati di hutan wilayah Cipelang ini sangat menguntungkan bagi masyarakat desa kami,” tutur Yugo.
Yugo menambahkan bahwa penyerapan tenaga kerja dalam proyek ini sepenuhnya mengutamakan warga lokal. “Tenaga kerja semua dari masyarakat Desa Cipelang, mulai dari pemeliharaan bibit di persemaian sampai saat penanaman nanti. Saya selaku ketua LMDH Rimba Jaya mengucapkan terima kasih kepada Perhutani yang selalu mendukung program-program LMDH,” pungkasnya.
Melalui perencanaan yang matang, penerapan teknologi bibit yang tepat, serta kolaborasi yang harmonis dengan masyarakat, BKPH Conggeang optimistis program ini akan mencapai tingkat keberhasilan hidup (survival rate) yang tinggi. Langkah ini diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi ekologis hutan sekaligus mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat Sumedang di masa depan. ***









