SMK Bakti Karya Parigi Gelar Workshop Pendidikan Multikultural

  • Bagikan
Masa pengenalan lingkungan sekolah di SMK Bakti Karya Parigi tempo hari.

KAPOL.ID – Situasi penerapan PPKM level 2 di Kabupaten Pangandaran tidak menyurutkan langkah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Pembelajaran tetap diizinkan dengan menggunakan prokes kesehatan.

Sebagai penyelenggara lembaga pendidikan, Yayasan Darma Bakti Karya menyelenggarakan acara bekerjasama dengan Kedeputian Bidang Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga (Kemenko PMK).

Acara yang berjudul Workshop Pendidikan Multikultural ini dalam rangka menguatkan ekosistem pendukung gerakan revolusi mental di SMK Bakti Karya Parigi.

Workshop dimulai pada Selasa, 14 September 2021 hingga 15 September 2021. Pada acara ini disampaikan materi tentang konsep pendidikan multikultural, pemahaman kebinekaan Indonesia, upaya membangun narasi persatuan di tengah ancaman disintegrasi, cara berkarya di tengah pandemi untuk menyemangati negeri, kiat hidup sehat di tengah pandemi, upaya membangun semangat kebersamaan, dan kolaborasi karya lintas budaya.

Materi disampaikan oleh berbagai narasumber salah satunya perwakilan kedeputian pengembangan revolusi mental Kemenko PMK, Alfian Ahmad.

Dalam pemaparannya, Alfian mengatakan bahwa upaya di SMK Bakti Karya Parigi ini memiliki potensi dalam mengupayakan gerakan revolusi mental.

“Gerakan Revolusi Mental ini bukan hanya milik pemerintah atau program kementerian. Justru gerakan ini adalah kehendak seluruh elemen bangsa untuk kemajuan manusia Indonesia.” Tutur Alfian.

Ketua Pengurus yang juga salah satu pemateri pada acara ini, Ai Nurhidayat menuturkan bahwa gerakan Revolusi Mental bila dioperasikan pada dunia pendidikan bentuknya seperti yang dilakukan SMK Bakti Karya Parigi.

“Apalagi siswa di sini terdiri dari berbagai suku, sehingga kesempatan siswa belajar tentang kebinekaan lebih besar” kaya Ai. “Pada titik itu” lanjut Ai, “Revolusi Mental akan menguat menjadi sebuah gerakan yang lebih masuk akal” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, seorang peneliti yang jug kandidat doktor Universitas Gadjah Mada, Asep Mulyana, menuturkan bahwa persoalan manusia Indonesia ini bermula dari mental yang keropos. Sehingga perlu dikuatkan dengan wacara yang menumbuhkan seperti workshop kali ini.

Dengan mengenakan pakaian dari 30 suku di Indonesia, 50 peserta workshop mengikuti acara hingga selesai. Sesi foto serta diskusi lanjutan menjadi pemandangan di akhir acara.

  • Bagikan