Fazrian Noor | Mahasiswa Master Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Masyarakat Digital Universitas Jenderal Soedirman
Selama lebih kurang enam bulan pandemi Covid-19, pemberitaan dengan tema kesehatan menjadi berita paling laris di berbagai media. Mayoritas media berbondong-bondong memberitakannya dari mulai edukasi protokol kesehatan, statistik pasien sembuh dan meninggal, hingga vaksin yang ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat.
Tidak terkecuali media baru seperti YouTube.Sebagai salah satu media baru, YouTube menciptakan profesi baru yang bernama YouTuber, yang membuat orang-orang kerap membuat konten video sesuka hati. Melalui YouTube pula, pundi-pundi rupiah katanya sangat mudah diperoleh. Kuncinya, hanya dengan berbekal konsisten dan konten yang menarik.
Celakanya, konten menarik di YouTube seringkali lemah dalam pengawasan, sehingga informasi misleading, misinformasi, bahkan hoaks sekalipun mudah ditemukan.
Misalnya, video viral yang diunggah Selebritis sekaligus YouTuber Anji pada tanggal 31 Juli 2020 dengan judul “BISA KEMBALI NORMAL!! OBAT COVID 19 SUDAH DITEMUKAN !! (Part 1). Dalam video tersebut, Anji mewawancarai Hadi Pranoto yang digadang-gadang sebagai profesor dan pakar mikrobiologi.
Selain itu, Hadi Pranoto pun diklaim sudah menemukan antibodi Covid-19 sejak bulan Mei. Faktanya, jejak profesor dan kepakarannya sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Alih-alih memberikan secercah harapan dalam melawan Covid-19, video tersebut justru menimbulkan misinformasi hingga membentuk berbagai kelompok kepentingan. Pernyataan-pernyataan misinformasi bahkan misleading yang disampaikan Hadi Pranoto, tak ayal seperti virus digital. Menyerang seluruh media, membentuk pemikiran baru, serta menghasilkan makna yang gagal dipahami.
YouTube yang pada dasarnya bisa dikatakan media bebas berekspresi, saat ini berubah menjadi keruh dengan hal-hal demikian. Media baru yang idealnya memudahkan dalam menyebarluaskan jangkauan komunikasi dan informasi, saat ini menjadi media yang benar-benar harus hati-hati dalam digunakan.
Memang, tidak sedikit orang membuat konten menarik hingga viral sebagai upaya mendulang penonton atau pelanggan. Karena dengan cara tersebut, efektif pula untuk meraih pundi-pundi rupiah. Akan tetapi, jangan sampai, virus digital seperti pernyataan Hadi Pranoto, menjadi virus baru yang mengganggu lingkungan digital.
Selain itu, masih rendahnya literasi media, menyebabkan hal-hal seperti ini sangat mudah dipercaya bahkan disebarluaskan. Konten-konten positif yang sejatinya membangun, justru malah kurang peminat bahkan ditinggalkan.
Tetapi konten-konten negatif, malah dengan sangat mudah untuk diklik dan ditonton. Tidak heran dan memang benar apa yang disampaikan McLuchan, bahwasannya media mampu menkonstruksi pemikiran hingga sikap dan perilaku.
Harapan vaksin Covid-19 agar segera rampung dalam berbagai uji, seyogyanya didukung dengan berbagai informasi ilmiah lainnya. Atau setidaknya jika tidak mampu, cukup menjalankan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Bukan malah menciptakan virus digital baru ditengah harapan positif segera diselesaikannya uji vaksin.
Terakhir, penggunaan dan pemilihan konten media disaat pandemi berperan amat sangat penting. Jangan sampai, pengguna dikuasai media sehingga mampu terpengaruh dengan begitu mudah tanpa dipilah dan dipilih. Akan tetapi, jadilah pengguna yang menguasai media, yang mampu memilah dan memilih konten positif untuk membangun pemikiran juga sudut pandang.
Fazrian Noor | Mahasiswa Master Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Masyarakat Digital Universitas Jenderal Soedirman
—- Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment —-
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web: https://kapol.tv
Twiter : https://twitter.com/kapoltv
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Instagram : https://www.instagram.com/kapol_id
Portal Inside : https://kapol.id/












