KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Barat menggelar babak final Lomba Pasanggiri Agung Kawih Sinom bertema “Narkoba Musuh Bangsa” di Gedung Pusat Budaya Jawa Barat, Senin (14/9/2026).
Ajang puncak ini mempertemukan sebanyak 16 finalis dari total 182 peserta yang sebelumnya telah melalui proses seleksi ketat, terdiri dari 8 orang kategori pelajar dan 8 orang kategori umum.
Kepala BNNP Jabar, Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono menjelaskan, pemilihan pupuh Sinom sebagai media kampanye bukan tanpa alasan mendalam. Secara filosofis, dari 17 jenis pupuh Sunda, Sinom dinilai paling tepat untuk menyampaikan pesan moral dan nasihat kepada generasi muda.
“Sinom itu artinya yang muda. Jadi ini nasihat kepada anak-anak, remaja, dan pemuda agar jauh dari narkotika,” ujar Sulistyo.
Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan pendekatan budaya tradisional yang adiluhung dalam menginternalisasi nilai-nilai luhur penolakan terhadap narkoba. Menurutnya, warisan leluhur ini telah lama diciptakan sebagai sarana komunikasi antargenerasi.
“Kira-kira 2.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita menciptakan pupuh ini untuk memberi masukan kepada anak-anaknya. Tidak hanya di Jawa Barat, tapi juga Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga NTB. Dari yang tua kepada yang muda, ibu dan bapak kepada anak, agar mereka menjadi manusia yang baik,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Pudjo berharap pesan-pesan moral tersebut meresap kuat ke dalam diri anak-anak di Jawa Barat, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Dengan begitu, mereka memiliki tameng diri yang kokoh.
“Begitu masuk, mereka pasti tidak akan mendekati narkoba. Sudah tahu, narkoba itu menghabiskan harta, merusak pikiran, membuat orang linglung,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Sulistyo turut menyampaikan apresiasi kepada insan media di Jawa Barat yang konsisten mengawal jalannya rangkaian acara dari awal hingga babak final. Ia juga berharap lomba serupa mendapat dukungan lebih luas agar kawih Sinom anti-narkoba kelak bisa diintegrasikan sebagai muatan lokal di Jawa Barat.
Di sisi lain, Sulistyo mengingatkan posisi strategis sekaligus kerawanan Jawa Barat sebagai daerah stepping stone atau jalur transit peredaran gelap narkotika menuju berbagai wilayah di Pulau Jawa dan Indonesia.
Berdasarkan pengungkapan kasus di sejumlah daerah seperti Palabuhanratu, Pangandaran, Cimahi, Bogor, dan Sumedang, skala peredaran yang ditemukan tergolong besar dan tidak hanya menyasar konsumsi lokal.
Data BNNP Jabar menunjukkan pola konsumsi di wilayah ini didominasi oleh 44 persen obat-obatan keras ilegal, 44 persen narkotika, dan 12 persen zat adiktif lainnya.
Kondisi tersebut turut memicu peningkatan angka kejahatan jalanan, termasuk aksi perampokan dan kekerasan, lantaran pelaku kerap bertindak lebih nekat usai mengonsumsi zat-zat terlarang tersebut.
Meski pada 2025 Jawa Barat sempat masuk dalam jajaran lima besar pusat peredaran narkoba nasional, Sulistyo menyebut ada catatan spesifik terkait jenis barang haram yang beredar.
“Penggunaan di Jawa Barat lebih banyak pada obat-obatan keras ilegal, sekitar 44 persen. Di tempat lain, yang ramai justru sabu,” jelasnya.
Melalui pagelaran Pasanggiri Kawih Sinom ini, BNNP Jabar optimistis peran seni dan budaya mampu memperkuat strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) langsung di akar rumput.
Sementara itu, Sekretaris Utama (Sestama) BNN RI, Irjen Pol. Tantan Sulistyana yang hadir langsung meninjau acara menegaskan bahwa kegiatan berbalut kearifan lokal ini merupakan langkah taktis pencegahan narkoba, khususnya bagi kelompok usia rentan 15 hingga 24 tahun.
Tantan tak memungkiri, angka penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda secara nasional mengalami kenaikan di angka 2,53 persen, dari sebelumnya yang berada pada kisaran 1,8 persen.
”Sebanyak 4,1 juta jiwa itu seluruhnya, ya. Dari semua kelompok usia, rentang usia 15 sampai 64 tahun. Untuk usia 15 sampai 24 tahun naik sekitar 2,53 persen, dari sebelumnya 1,8 persen,” ungkap Tantan di sela-sela acara.
Ia pun mewanti-wanti adanya pergeseran modus operandi kejahatan narkotika masa kini yang kian licik menyasar gaya hidup anak muda, salah satunya melalui pemanfaatan rokok elektrik atau vape.
Tantan mencontohkan sejumlah kasus yang berhasil diungkap aparat di Sidoarjo, di mana ganja daun kuncup diekstrak menjadi cairan, disusul penyelundupan ketamin cair serta etomidate cair.
“Karena sekarang anak muda kan banyak menggunakan rokok elektrik, ya, di tempat-tempat kafe dan sebagainya. Kita tidak bisa memantau, misalkan, yang bisa membedakan mereka menggunakan vape murni dengan diisi narkotika, bisa bedakan enggak? Karena kan ada varian rasa, ter-cover oleh varian rasa,” paparnya.
Menghadapi ancaman modus operandi baru ini, Tantan mendesak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan kolektif.
“Jangan sampai pergeseran modus operandi, pergeseran jenis narkotika baru, tidak kita antisipasi secara maksimal,” tegas dia.
Ia mengapresiasi langkah inovatif BNNP Jabar melalui Pasanggiri Agung Kawih Sinom dan berharap kegiatan kreatif semacam ini terus melahirkan ketahanan mental pada diri remaja.
“Kita harapkan anak remaja ini bisa berkreasi, menyampaikan pesan-pesan positif bahwa narkoba ini sangat berbahaya,” pungkasnya. (JM)












