Husni Mubarok
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Ketua PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya
Narasi agama pada perhelatan Pilkada seakan sudah menjadi sebuah jualan yang sangat laku diburu para calon pemilih. Para kandidat pun menyiapkan visi misi yang beraroma agama dan mempertontonkan aktivitas yang melambangkan ketaatan beragama.
Tasikmalaya, Kota maupun Kabupaten, sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim dan diidentifikasi sebagai kota santri telah lama mendeklarasikan diri sebagai daerah religius islami. Namun dalam perjalanan realitasnya apakah Tasikmalaya sudah religius islami?
Sebagaimana kita ketahui, Kabupaten Tasikmalaya pada 9 Desember 2020 menjadi bagian dari 270 daerah yang melaksanakan pilkada serentak dengan formasi 261 Kabupaten/kota dan 9 Provinsi. Dalam konteks penyelenggaraan pilkada serentak, jumlah ini menjadi jumlah yang paling banyak. Jika Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat ke 16, mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, maka rakyat Tasikmalaya sendiri telah melaksanakan proses demokrasi tersebut dengan memberikan hak pilihnya pada 17 April 2019 lalu dan menghasilkan formasi DPRD Kabupaten Tasikmalaya.
Sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, kita telah menyaksikan kerja keras semua partai politik untuk memberikan pilihan terbaik untuk seluruh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Masih terngiang semboyan politik mereka, “Atas nama rakyat”. Dalam konteks Pilkada Kabupaten Tasikmalaya, hari ini, partai politik telah menyuguhan pilihan yang terbaik untuk menjadi (bakal) calon Bupati Tasikmalaya.
Proses penyuguhan pilihan parpol yang mewakili rakyat ini telah rampung dengan berakhirnya pendaftaran Calon Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya ke KPU dengan menyuguhkan tiga pasangan calon dengan background politisi, santri, pengusaha, dan birokrat ditambah satu calon dari perseorangan yang membuat formasi Cabup Cawabup Tasikmalaya menjadi empat pasangan.
Setelah empat pasangan ini mendaftar ke KPU, warga Tasikmalaya tentu berharap besar dan menunggu apa saja yang akan dilakukan dan narasi apa saja yang akan disuguhkan bagi Tasikmalaya? Tentu narasi yang akan disuguhkan sangat mudah ditebak dan yang paling laku adalah narasi agama karena Kabupaten dengan jumlah 39 Kecamatan dan 351 Desa ini merupakan daerah dengan historis keagamaan yang kuat. Namun apakah narasi ini hanya sebatas kata ataukah sebagai landasan perjuangan suci yang betul-betul dilaksanakan?
Narasi Agama Hanya Simbol
Julukan kota santri sangat erat kaitannya dengan Kabupaten Tasikmalaya dimana lebih dari seribu pesantren tersebar luas di seluruh Kecamatan dan desa. Tasik termasyhur menampung santri dari berbagai penjuru negeri. Setiap tahun para calon santri berbondong bondong datang untuk belajar agama di Tasikmalaya.
Tokoh-tokoh pesantren Tasikmalaya pun telah mencatatkan namanya dalam sejarah republik ini. Salah satunya Pahlawan Nasional KH. Zainal Musthafa Sukamanah sebagai wujud perlawanan pada penjajahan Jepang, KH. Ahmad Sabandi Cilenga yang menjadi maha guru kyai di Tasikmalaya yang telah melahirkan nama besar sang pahlawan nasional KH. Zainal Musthafa, KH. Ruhiat Cipasung dan banyak lagi kiai lainnya. Kita juga mengenal Pesantren besar seperti Cintawana, Miftahul Huda, Cipasung, Suryalaya, Haurkuning, dan masih banyak lagi.
Kiprah lembaga pendidikan pesantren di Tasikmalaya sangat sukses menyebarkan agama Islam dengan sebaran alumninya di berbagai daerah di tanah air. Karena Tasikmalaya dikenal sebagai masyarakat religius sehingga banyak cerita perantau asal Tasikmalaya yang dipercaya menjadi Imam masjid, memimpin doa, memimpin tahlilan, dan ritual keagamaan di negeri rantau dengan hanya pertimbangan daerah asalnya yaitu Tasikmalaya.
Situasi ini menjadi peluang besar untuk memunculkan narasi agama dalam setiap pemilu baik legislatif maupun eksekutifnya. Namun yang terjadi dan pada tataran realitasnya, narasi ini tidak dieksekusi dengan baik dan berakhir hanya sebatas ujaran verbal pada baliho maupun alat peraga kampanye lainnya.
Salah satu contoh yang terjadi adalah tugu Lam Alif dengan indah berdiri di depan kantor bupati kebanggaan warga Tasikmalaya. Tugu ini memiliki arti Lā ilāha illallāh, Lā maujūda Illallāh, Lā ma’būda Illallāh, dan Lā mathlūba Illallāh.
Sebuah kalimat yang sangat luar biasa jika memang ini menjadi sebuah penghayatan dan dilaksanakan secara seksama oleh seluruh jajaran pemerintah dan rakyatnya. Tugu yang menjadi simbol dengan huruf Lam Alif (لا) ini secara harfiyah memiliki arti “tidak” yang secara bersamaan memberi pesan untuk mengatakan “tidak” terhadap perilaku korupsi berjamaah yang dilakukan oleh para pemimpin dan para pejabatnya sendiri dan mengatakan “tidak” terhadap praktik-praktik kotor lainnya.
Selain itu juga beberapa program keagamaan yang digawangi hanya berakhir pada baliho-baliho dan slogan-slogan yang tak begitu terasa secara langsung oleh masyarakat sampai ke pelosok pedesaan yang sangat luas. Secara pribadi penulis merasa khawatir jika simbol-simbol dan narasi agama ini hanya sebatas kata-kata yang tak berujung pada aksi nyata.
Fokuskan Sektor Garapan
Kabupaten Banyuwangi dari ujung timur Pulau Jawa bertransformasi menjadi Kabupaten yang maju dan mampu mengukir berbagai prestasi dan menaikan pendapatan perkapita hingga 99 persen, juga menurunkan kemiskinan sampai 9 persen. Kabupaten Banyuwangi ini hanya sebagai contoh Kabupaten kecil yang kemudian berubah menjadi luar biasa karena visi besar pemimpinnya. Pemimpin Banyuwangi memfokuskan garapannya pada suatu sektor dan menyadari potensi yang dimiliki daerahnya, lalu mengambil tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan yang tepat.
Ketika berbicara Kabupaten Tasikmalaya, rasanya kita belum merasakan dan belum mempunyai sebuah prestasi yang layak dibanggakan serta sektor apa yang memberi daya dobrak baru untuk maju. Lebih jauhnya, bahkan ketika menyaksikan Tasikmalaya hingga ke pelosok, kita dipaksa untuk mengheningkan cipta.
Pedesaan Tasikmalaya pun dihuni anak-anak dan perempuan dengan menyisakan sedikit kaum laki-laki. Kegiatan kepemudaan di desa ramai hanya ketika masa libur atau lebaran. Hal ini terjadi karena di Tasikmalaya sangat tidak menjanjikan banyak lahan pekerjaan dan memaksa warganya hijrah ke kota besar. Untuk sebagian daerah mungkin penulis menyarankan warga Tasikmalaya untuk tidak menjual telur karena dijamin merugi sebab jalanan yang dilalui tidak stabil dan sangat jauh dari kata layak. Telur yang dibawa dari satu daerah ke daerah lainnya bisa pecah di tengah perjalanan.
Beberapa uraian ini hanya sedikit dari segudang permasalahan yang terjadi di tanah kelahiran yang sama-sama sama kita cintai ini belum kita berbicara pendidikan, ketimpangan, toleransi dan sebagainya. Tasikmalaya hari ini membutuhkan sebuah kerja nyata, apapun narasi yang dibangun baik itu narasi agama, ekonomi, reformasi birokrasi, infrastruktur, dan sebagainya harus segera dilakukan dengan lompatan besar.
Setelah melihat background dan track record seluruh pasangan bakal calon, penulis berbahagia dan mempunyai harapan besar kepada semuanya untuk membangun narasi yang mampu membawa warganya optimis dan tidak memecah belah rakyat yang dari sebelum pilkada hidup rukun bergandengan.
Pada dasarnya mereka, para bakal calon, adalah putra-putra terbaik Tasikmalaya. Mereka memiliki niat mulia dan harus kita apresiasi dengan menjadi rakyat yang dewasa dalam memilih serta memenuhi hak kita dengan datang ke TPS pada tanggal 9 Desember 2020. Kita aktif berpolitik dan memberi hak suara dengan bertanggung jawab. Kita juga mendorong para pasangan bakal calon pemimpin Tasikmalaya agar tetap menjaga stabilitas dan kondusivitas. Slogan KPU, “rempug, jukung, sauyunan” yakin bisa terlaksana dan terwujud.












