KANAL

Anomali di Kota Santri

×

Anomali di Kota Santri

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID –
Rektor IAILM Suryalaya Prof. DR. Asep Salahudin mengatakan, Tasikmalaya yang dikenal kota santri menunjukan anomali.

Meski fenomena sosial bermunculan dalam 10 tahun terakhir, anomali tersebut apakah santrinya, ulamanya atau pemimpin pemerintahan.

Bahkan rakyatnya yang membuat kota santri itu jauh dari kenyataan saat ini.

“Untuk menanggapi hal tersebut, butuh penelitian yang memadai. Apa yang menyebabkan anomali di kota santri,” ujarnya saat menjadi narasumber pada Diskusi Publik Anomali di Kota Santri yang digelar Primajasa Institute, Sabtu (06/02/2021).

Ia mengatakan, anomali tersebut apakah hal tersebut hanya terjadi di Tasikmalaya, atau justru terjadi pula di Jabar dan nasional.

“Sejak dahulu Tasik tak pernah kekurangan ulama yang sampai ke tingkat nasional. Hari ini bagaimana?,” ucapnya.

Narasumber lainnya, Duddy RS melihat fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini bukanlah hal baru.

Mulai dari perilaku seksual di tempat umum, narkoba, miras ataupun persoalan lainnya.

“Jika merujuk pada surat kabar era tahun 1920-an, penyakit spilis itu masuk top ten. Fenomena itu ada, dan saat ini mungkin siklus berulang,” katanya.

Penggiat literasi ini mengatakan, fenomena sosial tersebut bukan hal yang baru. Tinggal bagaimana hari ini mencari solusi dengan pendekatan era sekarang.

“Jadi jangan kaget dan terkejut bukan main, tinggal mencari solusi terbaik. Apakah masih layak disebut kota santri, sepengetahuan saya istilah itu adalah cita-cita luhur,” ujar Duddy.

Narasumber lainnya, Asep M. Tamam berharap kajian-kajian seperti ini menjadi fokus Primajasa Institute.

Dengan harapan bisa independen, dan menghasilkan pemikiran objektif untuk menjawab persoalan di Tasikmalaya.

Direktur Eksekutif Primajasa Institute
Mulyadi mengatakan, wadah ini cocok untuk sumbangsih pemikiran untuk pemerintah, masyarakat dan berbangsa.

“Ini wujud kepedulian keluarga besar kepada masyarakat. Ingin memberikan sumbangsih pemikiran, konsep pembangunan daerah umumnya priatim dan jabar,” kata CEO Primajasa, H. Amir Mahpud.***