Antara Citra dan Identitas Tasikmalaya

  • Bagikan

Oleh Maulana Janah
Lembaga Kajian Silang Budaya Indonesia (LKSBI)

Jika membayangkan kota-kota yang ada di dunia ini, yang terbayang adalah keunikan dan keindahan kota itu. Orang akan terpesona jika melihat suatu kota atau daerah dengan citra indah yang menawan.

Sebagaimana kalau kita membayangkan kota Paris, yang akan terbayang dalam benak kita karena gagah dan spektakulernya menara Eiffel.

Ikon ini membuat Kota Paris dikenal di dunia. Citra positif Kota Paris tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dunia.

Selanjutnya, berbeda dengan kota Paris yang telah disebutkan tadi, kota ini memiliki citra yang kurang baik (negatif) dimata masyarakat dunia.

Kota Libanon dan Banglades merupakan kota yang dihuni oleh banyak masyarakat miskin. Dua kota ini memberikan gambaran kurang elok dalam benak masyarakat dunia karena persoalan kemiskinan yang melanda kota tersebut.

Ilustrasi yang telah disampaikan tadi, adanya perbedaan imaginasi dari ketiga kota tersebut, Paris mendatangkan imaginasi keindahan karena citranya yang positif, sementara Libanon dan Banglades memberikan kesan imagi sebalinya, citra negatif.

Di Indonesia juga banyak kota yang memiliki citra dan identitas yang tak kalah dengan Paris. Bali adalah daerah yang memiliki keunikan dan kekhasan berbalut dengan keindahan alam dan budaya, sementara Kota Bandung juga dikenal dengan Kota Kembang yang indah dan memiliki icon Gedung Sate.

Citra dan identitas suatu kota sangat menentukan persepsi setiap orang. Kota atau daerah dengan citra yang bagus biasanya mampu memberikan kesan tertentu yang bersifat positif yang akan diingat selamanya dalam benak setiap orang.

Pertanyaannya adalah mengapa kota atau daerah membutuhkan citra?. Ada dua alasan penting dalam menjawab pertanyaan ini.

Pertama, kota atau daerah merupakan repsentasi dari entitas politik, dan yang kedua, kota merupakan representasi pertumbuhan ekonomi.

Dari alasan yang telah dijelaskan di atas, terlihat bahwa sebuah kota atau daerah memiliki banyak pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan kota atau daerah terdiri dari masyarakat internal kota itu sendiri sebagai warga, selanjutnya pihak luar atau swasta, dan pemerintah daerah.

Kemudian untuk pihak eksternal lainnya adalah calon investor, para pekerja, turis domestik dan turis asing, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan lain sebagainya.

Kemajuan dalam dunia teknologi informasi saat ini, menuntut sebuah kota atau daerah untuk memenangkan berbagai persaingan ketat antarkota atau antarnegara yang dilakukan untuk mendapatkan sumber daya kapital, baik itu berupa uang, orang, pekerjaan dan juga perhatian.

Karena itulah, citra positif yang kuat suatu daerah akan menjadi jalan dan pemicu bagi daerah untuk mencapai taraf kemajuan dengan mengakomodasi berbagai pemangku kepentingan.

Bagaimana dengan kawasan atau daerah yang ada di Priangan Timur dan sekitarnya?. Daerah seperti Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran. Pada titik tertentu daerah tersebut memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing.

Contoh seperti Pangandaran dikenal dengan daerah parawisata karena ada potensi laut dan alam yang sangat Indah. Bagi daerah-daerah yang lain, bukan tidak memiliki identitas dan citra untuk dikembangkan tetapi perlu ada langkah nyata dari masyarakat dan para pemimpin untuk menggali potensi daerah tersebut.

Sebagai sebuah gagasan, tulisan ini mencoba untuk menggali potensi keunggulan yang dimiliki oleh Kota dan Kabupaten Tasikmalaya yang selama ini luput dari persoalan ini.

Para pemimpin daerah belum memikirkan secara mendalam, bagaimana suatu daerah dapat dibranding secara apik dengan pendekatan identitas yang dimiliki.

Kota atau daerah ibarat merk atau brand yang bisa diciptakan sesuai dengan selera pasar. Sebab biasanya dalam pergaulan global masyarakat cenderung memilih merk dan brand yang punya reputasi kelas dunia ketimbang merk lokal meskipun terkenal.

Sementara itu, citra merupakan asosiasi yang muncul dibenak orang tentang suatu obyek dan tidak pernah dianggap salah. Citra sebuah tempat atau daerah adalah kumpulan skema yang digunakan sebagai jalan dalam proses informasi dan pengambilan keputusan oleh orang sebagai konsumen atau pengguna.

Jika citra sebuah kota atau daerah telah terbentuk dengan apik, dipastikan akan sulit untuk mengubahnya. Sebagai contoh Kota Detroit di Amerika Serikat terkenal sebagai kota pembunuhan.

Kembali kepersoalan Tasikmalaya sebagai kota atau daerah yang sedang mengalami perkembangan pembangunan yang dinilai cukup pesat.

Pada titik tertentu kota dan daerah ini belum memiliki identitas yang akan dijadikan sebagai daya tawar bagi masyarakat dunia.

Selama ini, informasi yang berkembang, Tasikmalaya dikenal dengan kota santri, apakah ini yang akan dijadikan merk atau brand yang akan dipromosikan kedalam pergaulan manusia global.

Jika kota santri sebagai citra yang akan dijadikan identitas, maka perlu ikon yang bisa menjual brand tersebut.

Sepengetahuan penulis pemerintah belum bisa membuat suatu ikon yang dijadikan magnet dari citra tersebut. Apakah itu dalam bentuk ikon seribu menara mesjid atau ikon kitab kuning dalam bentuk perpustakaan manual dan digital bertarap internasional.

Berkaca pada kemajauan kota-kota yang ada di dunia, maka kota lokal seperti Tasikmalaya juga bisa membangun suatu cara tertentu untuk memberikan imej kepada kota di luar Tasikmalaya.

Namun hal ini sangat bergantung kepada para pemimpin dan masyarakat kota ini. Perlu diingat bahwa pada saat ini sedang terjadi persaingan antar kota-kota di dunia yang ujungnya adalah persaingan dalam bidang ekonomi.

Kota yang memiliki keunikan dan citra yang tinggi dan bernilai positif akan bisa bertahan dalam era persaingan global.***

  • Bagikan