Bupati Tasik Kagumi Makanan Olahan Tradisi “Jajabur” Bantarkalong

  • Bagikan

KAPOL.ID –
Pagelaran Budaya dan Seni Pataka, Desa Bantarkalong, Kec. Cipatujah, Selasa, (19/10/2021) menyajikan makanan khas unik beraroma “pilemburan”.

Makanan olahan tradisi ini dibuat dari bahan baku “beubeutian”, seperti beras, singkong, sukun, talas, pisang dan lainnya.

Bupati Tasikmalaya Ade Sugianto, kagum saat berkeliling melihat dan mencicipi makanan Jajabur hasil olahan ibu-ibu.

Sebanyak 10 kelompok yang tergabung dalam “Puhun” nama komunitas buhun turun-temurun dari garis ibu, kini usianya sudah ratusan tahun.

“Apresiasi yang sangat tinggi untuk ibu-ibu komunitas puhun, di wilayah lain tradisi ini mungkin sudah hampir punah.”

“Dari bahan baku beubeutian bisa melahirkan tradisi aneka makanan olahan khas Jajabur,” jelas Ade.

Diapun sangat ‘reueus’, dengan kebersamaan, persaudaraan, keragaman budaya dan seni Sunda warga Bantarakalong bisa dibalut harmonis dengan seni Islam.

“Mari kita bangkitkan lagi kebersamaan, persatuan, lewat gelar budaya dan seni dari Bantarkalong,” imbuh Ade.

Ade menginstruksikan Plt. Kabid Kebudayaan, Dudi, agar Pagelaran Budaya dan Seni Pataka ini, tahun depan menjadi kalender dan agenda Kabupaten Tasikmalaya.

Pupuhu Pemangku Adat Bantarkalong (Pataka) Drs Dedi Abdullah menuturkan, jajabur usianya sudah ratusan tahun, warisan dari Kanjeng Syekh Zaenuddin pendiri Pontren Muara.

“Jajabur bagian dari tradisi daerah Pasidkah usianya sudah ratusan tahun, selain Jajabur di Bantarkalong masih ada tradisi Pahajat,” jelas Dedi.

Nilai budaya dan seni Sunda dan Islam warisan dari Syekh Zaenuddin hingga sekarang masih tetap lestari dan masih dilaksanakan di Bantarkalong.

Camat Cipatujah Darja S.Sos menyambut baik Pagelaran Budaya dan Seni Pataka menjadi kalender dan agenda tahunan Kabupaten Tasikmalaya.

“Tahun depan dalam acara yang sama warga Bantarkalong harus kompak dan meriah lagi menyemarakkan tradisi, Jajabur, Pahajat di wilayah Pasidkah,” harapnya.***

  • Bagikan