OPINI  

COVID-19, Ujian Kecil Tuhan Menumbuhkan Kesadaran Global

Erlan Suwarlan

MUNGKIN awalnya tidak ada yang pernah mengira bahwa wabah Coronavirus Disease (Covid-19) bermula dari salah satu kota yang cukup padat di negeri China, yaitu Wuhan. Dalam perkembangannya wabah tersebut secepat kilat menyebar ke seluruh dunia, dimana penyebarannya tidak hanya merambah negara-negara terdekat di wilayah Asia, melainkan sampai ke negara-negara di benua Eropa bahkan Afrika.

Termasuk di Tanah Air kita Indonesia, data sampai 28 April 2020, pukul 16:48 WIB terdapat 9.511 kasus. Dari angka tersebut, sebanyak 7.484 dirawat, 773 meninggal, dan 1.254 dinyatakan sembuh. Upaya-upaya strategis dan politis pun kemudian banyak dilakukan oleh negara-negara yang terjangkit pandemi Covid-19, berpacu dengan kecepatan penyebarannya yang ganas dan mematikan di seluruh dunia.

Terlepas teror Covid-19 saat ini statusnya sebagai pandemi, saat bersamaan dalam jangka pendek telah menumbuhkan kesadaran global umat manusia di atas muka bumi bahwa peristiwa ini sebagai ujian kecil dari Tuhan.

Oleh karenanya harus dihadapi bersama-sama dengan cara yang relatif sama, yaitu salah satunya melakukan tindakan pencegahan yang paling sederhana dengan menerapkan social distancing atau memastikan jarak aman kita dengan seseorang atau sekelompok orang.

Pada tanggal 30 Januari 2020 lalu, dua bulan setelah wabah Covid-19 di Wuhan, China, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Darurat Kesehatan Global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) terhadap Covid-19, setelah diketahui ada 98 kasus dari 18 negara yang sudah terpapar virus di luar China.

Dalam akun media sosialnya, WHO mengartikan PHEIC sebagai peristiwa luar biasa yang menjadi resiko kesehatan publik bagi negara lain melalui penyebaran penyakit dalam skala internasional, serta memerlukan respon internasional yang terkoordinasi.

Selanjutnya PHEIC ditujukan untuk memobilisasi respon internasional terhadap pandemi tersebut, menerapkan tindakan yang tidak mengikat, tetapi praktis dan politis sehingga dapat menangani secara signifikan mengenai perjalanan, perdagangan, karantina, penyaringan, dan perawatan. Dalam hal ini  WHO dapat menetapkan standar praktik global.

WHO meminta semua negara agar melakukan langkah-langkah yang lebih efektif, seperti melakukan tes yang lebih banyak guna menahan/mendeteksi penyebaran, isolasi mereka yang terinfeksi, persiapan dan reaksi cepat, jaga jarak aman, dan mempromosikan gaya hidup higienis. Kemudian WHO menghimbau agar masyarakat tidak memandang sepele penyakit ini dan senantiasa melakukan tindakan pencegahan.

Beberapa langkah lainnya yang disarankan untuk dilakukan dalam upaya mencegah infeksi Covid-19, yaitu mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menggunakan masker yang tepat, menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan sehat serta suplemen, tidak pergi ke negara terjangkit, dan menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi menularkan Covid-19.

Kecepatan sebaran Covid-19 telah mendorong sejumlah negara membuat pembatasan ketat lintas batas negara mereka masing-masing, misalnya dengan menutup jalur penerbangan, hingga membatasi interaksi di antara warga negaranya sendiri. Hal tersebut dilakukan untuk melawan infeksi Covid-19 yang sampai sekarang kurang lebih sudah memapar 175 negara di dunia. Penyebaran Covid-19 yang telah meluas ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia membawa dampak pada perekonomian dunia baik dari sisi perdagangan, investasi maupun pariwisata.

World Economic Forum (WEF) memandang penyebaran Covid-19 mulai menunjukkan dampak ekonomi terhadap dunia. Banyak negara yang memprediksi ekonominya akan mengalami resesi, dan pertumbuhan ekonomi akan negatif. Karena itu pemerintah di masing-masing negara harus memikirkan jangka panjang dalam mengantisipasi dampak ekonomi.

Bahkan banyak para pemerhati di bidang ekonomi menyatakan negara-negara berkembang akan lebih sulit tiga kali lipat dibanding negara maju dalam menyelesaikannya. Banyak faktor penyebabnya, mulai dari teknologi yang dimiliki kurang memadai, fasilitas kesehatan yang minim, dan sumber daya manusia kesehatan yang terbatas.

International Monetary Fund (IMF)  memproyeksikan bahwa 175 negara akan mengalami pertumbuhan pendapatan per-kapita negatif tahun ini. Untuk itu IMF menyarankan dalam menanggulangi Covid-19 tidak hanya fokus dalam kebijakan domestik melainkan juga ada kerja sama internasional yang tepat.

Dampak Covid-19 telah memukul berbagai sudut ekonomi Indonesia. Seperti indeks bursa saham rontok, rupiah terperosok, dan pelaku di sektor riil berteriak susah berusaha. Selain membuat peraturan untuk social distancing atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pemerintah Indonesia juga mengeluarkan dua skenario besar untuk menyelamatkan perekonomian Negara.

Untuk membendung meluasnya dampak Covid-19, pemerintah Indonesia membuat terobosan kebijakan yaitu dengan merelokasikan anggaran, dengan dua skenario: Pertama, skenario yang paling moderat yaitu ketika Covid-19 bisa segera ditangani sehingga ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas 4%;

Kedua, yaitu bersiap menghadapi kondisi yang lebih buruk jika durasi pandemi mencapai 3-6 bulan, pembatasan penerbangan dan kegiatan perdagangan internasional yang terganggu akan berdampak besar terhadap ekonomi Indonesia. Jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa ada di kisaran 2,3%, bahkan dalam kondisi yang paling buruk bisa mencapai -0,4%. Sangat mengerikan!

Di tengah kecemasan dampak dari Covid-19 terhadap perekonomian yang akan menimpa Indonesia, ada kabar baik yang datang dari dua institusi yaitu World Bank dan IMF yang memproyeksikan bahwa ada tiga Negara di Asia yang akan mampu bertahan menghadapi dampak dari Covid-19 yaitu Indonesia, Tiongkok, dan India.

Ketiga Negara diketahui mengkombinasikan kebijakan penanganan dan stimulus ekonomi, seperti memberikan tambahan belanja di bidang kesehatan dan bantuan sosial, membantu dunia usaha dengan memberikan jaminan pinjaman tetap, kredit tetap mengucur serta memberikan fasilitas refinancing  atau restructuring, termasuk menjaga sistem keuangan supaya tidak mengalami krisis.

Efek positif penerapan social distancing telah mengubah banyak hal di masyarakat dunia. Penerapan social distancing disadari atau tidak membawa dampak positif. Seperti hubungan antar keluarga lebih dekat, kepedulian sosial meningkat, tumbuhnya solidaritas terhadap para tenaga medis, memiliki banyak waktu untuk pekerjaan yang tertunda, polusi udara turun drastis, perairan menjadi lebih bersih, satwa dilindungi leluasa berkembang biak, dan konsumsi bahan bakar minyak menurun.

Jika di satu sisi wabah Covid-19 di Tanah Air kita menghadirkan rasa panik, cemas, pilu, dan duka yang mendalam terhadap para korban, namun di satu sisi lainnya tumbuh kesadaran dalam berbagai bentuk empati yang besar di tengah-tengah masyarakat.

Bisa kita saksikan sendiri bagaimana tumbuhnya tunas-tunas solidaritas. Aksi-aksi sosial tampak dalam beragam aksi kemanusiaan, dukungan menguatkan kepada para tenaga medis dan para korban dalam berbagai cara, serta dukungan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah besar ini.

Modal sosial merupakan modal paling dahsyat yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini dalam menghadapi musibah global seperti sekarang ini untuk dapat segera keluar dari serangan Covid-19 yang ganas dan mematikan.

Perbuatan sekecil apa pun sangat dibutuhkan. Berupaya sekuat tenaga untuk mencegah–bahkan memberantas–merebaknya Covid-19 baik oleh pemerintah dan warga negara secara bersama-sama.

Artinya bahwa musibah ini kita terima sebagai ujian kecil Tuhan, yang harus kita kuat menerimanya. Tidak pasrah begitu saja. Melainkan berusaha mencari cara yang paling tepat agar segera terbebas dari musibah ini. Salam Kemanusiaan!***