OPINI  

Demo Pertama Pada Sejarah Khazanah Islam

Oleh Ilham Abdul Jabar
Guru Kelas Mahasiswa Ponpes Al Hikmah Mugarsari Kota Tasikmalaya

Tahukah anda bagaimanakah sejarah demo itu dan siapakah kelompok islam yang pertama kali berdemo?

Dikutip dari Kitab Bidayah Wan Nihayah-nya Ibn Katsir, dalam sejarah Islam, aksi demo pertama kali dilakukan oleh kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan khilafah yang sah, khalifah Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallohu anhu. Adapun dalang utama di balik aksi demo pertama tersebut adalah seorang Yahudi yang licik yang sudah lama menebarkan virus kebencian di kalangan umat Islam saat itu.

Dalam kitab itu dikatakan bahwa, para pendemo menuntut Amirul Mukmimin Khalifah Sayyidina Utsman bin Affan untuk mundur dari jabatannya atau jika tidak mau, maka akan mati dibunuh. Para pendemo melancarkan aksinya dengan mengepung rumah Sayyidina Utsman bin Affan dan memberikan ultimatum, mengundurkan diri atau dibunuh.

Menanggapi fitnah para pendemo, Sayyidina Utsman bin Affan tetap pada pendiriannya yang tidak mau menanggalkan kekhalifahannya. Beliau teringat pesan Rasulullah SAW yang memang sudah diketahuinya bahwasanya nanti akan datang fitnah yang menimpanya. Ketika fitnah itu datang, Rasulullah berwasiat agar beliau tetap berada pada posisinya dan bersabar.

Walau mudah baginya untuk menumpas habis para pendemo yang memberontak itu, sahabat-sahabat Nabi SAW pun sudah bersiap diri menawarkan bantuan untuk memberantas para pendemo. Tetapi apa yang terjadi? Sayyidina Usman justru menolaknya. Sayyidina Utsman bin Affan tidak ingin menjadi orang pertama yang menumpahkan darah di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW.

Ia kembali teringat wasiat Rasulullah SAW untuk tetap bersabar menghadapi fitnah tersebut. Ia pun sudah mengetahui dirinya nanti akan dibunuh seperti yang diberitahukan oleh Rasulullah SAW semasa hidup.

Seakan tidak mau kalah, para pendemo terus menerus melancarkan aksinya melakukan pengepungan sampai berlanjut hingga 40 hari. Sementara Sayyidina Utsman tetap bersabar berpegah teguh pada pendiriannya yang tidak mau melawan dan tidak mau menanggalkan jabatannya. Ini dilakukan semata-mata demi sang kekasih yakni Rasulullah SAW bukan karena dirinya takut terhadap para pendemo yang memberontak.

Hingga pada suatu hari, di akhir hari pengepungan, Sayyidina Utsman bin Affan membuka dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Beliau kemudian duduk dan mengambil mushaf al-Quran dan membacanya. Para pendemo pun melihat Sayyidina Utsman yang sedang membaca al-Quran melalui bilik pintu rumahnya. Kesempatan emas ini dimanfaatkan para pendemo untuk masuk ke dalam, sampai akhirnya membunuh Sayyidina Utsman.

Sayyidina Utsman bin Affan gugur syahid di tangan para pendemo kaum pemberontak saat itu. Sayyidina Utsman sedang berpuasa dan sedang membaca Kalam Mulia al-Quran. Sementara sang istri yang melihat segera bergegas menolong hingga akhirnya jari jemarinya pun terpotong di tangan para pendemo. Ya Allah, sungguh Engakau telah muliakan Dzun Nurrain.

Berkata Ibn Abbas Radhiyallohu ‘Anhu: “Aku duduk bersama Rasul SAW, maka datanglah Utsman bin Affan RA, maka Rasul SAW berkata padanya: Wahai Utsman, engkau akan dibunuh sedang engkau sedang membaca surat Al Baqarah, dan darahmu akan menciprat pada ayat FASAYAKFIIKAHUMULLAH WAHUWASSAMI’UL ‘ALIIM (Yang artinya: Maka Allah akan mencukupkan kalian dengan kecukupan dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui).

Engkau akan dibangkitkan sebagai pemimpin di hari kiamat, dan akan cemburu padamu penduduk Barat dan Timur, dan engkau akan memberi syafaat sebanyak rakyat Rabi’ah dan Mudharr (Rabi’ah dan Mudharr adalah dua qabilah arab yang banyak jumlahnya).”