BIROKRASI

Dinasti Loyalis di Organ Vital Pangan: Prabowo Mobilisasi Sudaryono Kemudikan BGN

×

Dinasti Loyalis di Organ Vital Pangan: Prabowo Mobilisasi Sudaryono Kemudikan BGN

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE — Di tengah pacuan realisasi agenda politik utamanya, Presiden Prabowo Subianto kembali menarik loyalis lingkaran dalamnya ke pucuk pimpinan instansi strategis.

Eks ajudan pribadi yang juga menjabat Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, resmi didapuk memimpin Badan Gizi Nasional (BGN). Penunjukan ini menggeser Nanik Sudaryati Deyang yang secara mendadak mengundurkan diri dengan alasan krisis kesehatan jantung.

Sinyal pergeseran takhta di tubuh BGN ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, di Kompleks Istana Kepresidenan. Istana bergerak cepat memuluskan transisi demi meredam potensi kekosongan kekuasaan pada badan pengeksekusi program triliunan rupiah tersebut.

“Pengunduran diri Ibu Nanik S. Deyang didasari pertimbangan kesehatan agar beliau dapat fokus menjalani pengobatan medis,” ujar Prasetyo melokalisasi isu kepindahan kepemimpinan tersebut.

Namun, di balik narasi formal pengobatan medis, penunjukan Sudaryono menelanjangi satu realitas politik yang kian benderang: Prabowo hanya memercayakan proyek mercusuar kekuasaannya kepada lingkaran terdekat.

Sudaryono, pria yang mengawal Istana sebagai asisten pribadi Prabowo sejak 2010 dan menahkodai DPD Gerindra Jawa Tengah bukan sekadar pejabat teknis. Penempatannya di BGN mempertegas konsolidasi kekuasaan Istana atas program Makan Bergizi Gratis (MBG), proyek geopolitik-ekonomi domestik yang menjadi pertaruhan reputasi terbesar kepemimpinan Prabowo.

Sebagai Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono memegang kendali rantai pasok dari hilir hingga hulu. Menggesernya ke tampuk pimpinan BGN mengonfirmasi bahwa Prabowo tidak ingin ada celah meleset dalam pasokan pangan nasional untuk program MBG. Istana mengklaim langkah ini murni pertimbangan penguasaan teknis dan efisiensi logistik pangan.

Meski demikian, langkah Istana menumpuk figur politik yang sama di portofolio pangan vital memicu sorotan tajam soal pemusatan kendali.

Menjawab keraguan atas potensi benturan kepentingan, Mensesneg menegaskan bahwa Sudaryono wajib menanggalkan jabatan Wamenagri/Wamentan demi memfokuskan seluruh daya tempurnya di BGN.

Kini, bola panas program gizi nasional sepenuhnya berada di tangan sang eks ajudan. Publik menunggu: apakah penunjukan loyalis ini efektif mengeksekusi janji politik Presiden, atau sekadar eksperimen konsolidasi kekuasaan di lingkaran dalam Istana.***