International Women’s Day Jangan Hanya Dijadikan Ritual Tahunan

  • Bagikan

Oleh Ipa Zumrotul Falihah
Aktifis Perempuan Direktur Yayasan Taman Jingga

Setiap tanggal 8 Maret berbagai negara di dunia memperingati Hari Perempuan sedunia atau lebih dikenal dengan International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional.

Sebagai bentuk representasi bagi para perempuan untuk menyerukan kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan.

Sebelum adanya pandemi, peringatan dilaksanakan dengan melakukan beragam kegiatan baik itu seminar, diskusi, kegiatan seni atau bahkan aksi turun kejalanan seperti pawai, unjuk rasa, orasi dan sebagainya.

Tentu aksi tersebut didasari oleh kesadaran umum bagi para perempuan dari seluruh jenis profesi untuk bersatupadu dalam menyuarakan hak-hak perempuan yang dirasa masih banyak terjadinya ketimpangan.

Era keterbukaan informasi ini, perempuan punya kesempatan terbuka dalam menempati jenis-jenis karier atau pekerjaan sehingga hal tersebut dikatakan sebagai sebuah kemajuan dibandingkan perempuan masa lalu.

Namun pada kenyataannnya ketimpangan gender masih tetap ada meski sekarang perempuan sudah punya kesempatan untuk bekerja di berbagai macam profesi, akan tetapi untuk jabatan-jabatan para pengambil kebijakan masih belum seimbang antara laki laki dan perempuan.

Para pengambil kebijakan banyak dijabat atau ditempati oleh kaum laki laki-laki, dan perempuan adalah orang kedua dalam memutuskan sesuatu kebijakan tersebut. Mencermati hal ini perlu konsisten dalam menyuarakannya tidak hanya setahun sekali di moment hari Perempuan Internasional saja.

Perlu gerakan kolektif yang berkesinambungan serta kesadaran dari perempuan itu sendiri. Karena ada juga perempuan yang tidak menyadari atau bahkan tidak peduli atas ketimpangan gender yang terjadi di sekitarnya.

Yang lebih penting adalah para perempuan harus bisa membuktikan kapasitas integritas kualitas dirinya bahwa tidak hanya teriak ingin disejajarkan atau diberikan ruang yang sama dengan laki laki.

Namun di sisi lain tidak disiapkan ilmu, mental dan integritasnya ini juga ironi dan menjadi PR besar bagi perempuan agar lebih meningkatkan kemampuannya.

Intinya masyarakat akan menghargai bilamana kita mampu memberikan bukti bukan cuma opini.

International Women’s Day Jangan hanya dijadikan Ritual tahunan tanpa ada peningkatan perubahan serta perubahan dari perempuan itu sendiri.

Bilamana mindset perempuannya merasa cukup hanya sebagai orang kedua setelah laki laki-laki maka beberapa tahunpun diperingati adanya International Women’s Day tetap saja hanya sebagai Ritual tahunan saja.

Jenis pekerjaan dan profesi yang memberikan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan zaman ini, sebagai bentuk kemajuan hasil dari aksi-aksi di berbagai negara dalam kurun waktu yang tak pendek.

Butuh perjuangan bertahun-tahun agar regulasi dalam bentuk undang-undang bisa berpihak pada perempuan.

Patut disyukuri memang ketika ada perubahan yang berpihak pada perempuan untuk menempati jabatan publik atau profesi sejajar dengan laki-laki.

Walau pada praktiknya, tanpa kita sadari perempuan masih belum menempati posisi strategis sebagai pengambil kebijakan dan ditambah lagi dengan adanya pandangan kekhasan dari masyarakat atau lingkungan tempat bekerja.

Contoh jabatan direktur dalam suatu perusahan dalam pandangan masyarakat hanya mampu dijabat oleh laki-laki sedangkan perempuan cukup jadi sekretaris saja, lalu profesi pilot seolah olah hanya pantas dilakukan oleh laki-laki sedangkan perempuan cukup sebagai pramugari saja.

Jabatan eksekutif dan legislatifpun demikian, tidak dipungkiri masih ada stigmaisasi laki-laki harus ada di atas perempuan dan perempuan harus terima hanya sebagai bawahan saja.

Padahal masalah kemampuan dan berkontribusi tentu sama saja hak dan kesempatan. Selama perempuan itu mampu dan bisa mengerjakan tugas tersebut dengan baik tanpa harus melanggar kodratnya.

Jabatan organisasi juga partai politik, perempuan adalah orang no 2 setelah laki-laki meskipun perempuan itu mampu dan layak jadi bukan sekedar isu belaka. Jadi mari terus suarakan dan bersinergi untuk bisa ada perubahan tanpa ketimpangan gender.

Secara global, taraf kesehatan, pendidikan, gerak sosial, posisi perempuan di ruang domestik maupun publik masih lebih rendah daripada laki-laki. Selanjutnya angka kekerasan seksual terhadap perempuan semakin bertambah. Tindakan kekerasan terhadap perempuanpun semakin beragam, tidak manusiawi dan merendahkan perempuan.

Bahkan, menurut data Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan selama 12 tahun terakhir meningkat hampir 8 kali lipat bahkan masa pandemi Covid-19 semakin meningkat sebanyak 63%.

Angka tersebut merupakan angka yang terungkap atau terlaporkan, belum lagi masalah kekerasan terhadap perempuan yang tidak terungkap dan terlapor.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, masih banyak perempuan yang mengalami kasus kekerasan dan sejenisnya yang takut dan enggan untuk melapor, baik kekerasan yang terjadi di ruang publik ataupun kekerasan di ruang domestik atau rumah.

Di momen Hari Perempuan Internasional sekarang gagasan dan konsep tentang kesetaraan gender kini bukan hal yang tabu lagi untuk dibicarakan.

Sudah sering digaungkan oleh para aktifis perempuan dalam menyuarakan kesetaraan gender walaupun hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Namun setidaknya dari tahun ke tahun ada peningkatan dan kesadaran dari masyarakat akan hal ini.

Tentunya hal tersebut tidak mudah, bahkan mustahil untuk dihilangkan. Tapi dengan pemahaman dari masyarakat akan pentingnya kesetaraan dan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait pengutamaan kesetaraan gender.

Artinya, setiap program dan kegiatan yang dilakukan harus memperhatikan pemenuhan hak terhadap perempuan.

Kita berharap segala bentuk permasalahan gender yang masih ada dapat segera diminimalisir dan diselesaikan demi terciptanya kesetaraan dalam kehidupan manusia sehingga peradaban bisa dibangun oleh laki-laki dan perempuan tanpa ketimpangan.***

  • Bagikan