Lingga-Yoni Bertahan Walau Digempur Penambangan Batu dan Pasir

Jejak Cikahuripan Tempat Menyucikan Diri

24

BUKAN perkara baru, Situs Lingga Yoni di Bukit Kabuyutan Indihiang diperbincangkan para peneliti. Balai Arkeologi Bandung (BAB) telah menurunkan tim untuk meneroka peninggalan karuhun yang ditaksir sudah ada sejak 2500 tahun lalu itu.

Tim yang tempo lalu dikomandani Endang Widiastuti itu, dengan cermat menelisik berbagai sumber yang ada di bukit itu. Kemudian menafsirkan data yang serba terbatas itu menjadi sebuah rangkaian cerita. Bukan mengarang-ngarang, tetapi didasari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Hasilnya cukup menggembirakan.

Tim BAB menenggarai bangunan bersejarah di bukit itu merupakan peninggalan masa megalitikum sebelum jaman Hindu. Peneliti Utama Balai Arkeologi Bandung, Drs. Lutfhi Yondri, M.Hum menemukan jejak budaya lebih tua yang ditandai undakan dan teras yang tersusun ke atas sebagai bagian dari tradisi budaya jaman Megalitik yang berkembang sebelum budaya Hindu masuk ke Tasikmalaya.

Terlacak pula sudut teras bangunan dengan luas 7 x 7 meter persegi dan batu tegak berdiri atau menhir. Di bukit itu pula ditemukan jejak cikahuripan (mata air) sebagai tempat penyucian sebelum melakukan pemujaan. Struktur bangunan di bukit itu bisa direkontruksi dengan melakukan pemugaran. Boleh jadi, bila ditelusuri dan dicermati akan ditemukan data fisik baru yang bisa membuka tabir Situs Kabuyutan itu.

Situs Lingga Yoni terletak di Blok Gunung Kabuyutan yang secara administratif masuk dalam wilayah Blok Wangkelang Kampung Sindanglengo, Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang. Situs yang terletak di daerah bergelombang yang dimanfaatkan sebagai areal perkebunan ini berjarak sekitar 8 km dari pusat Kota Tasikmalaya. Lokasinya yang dekat dengan jalan besar/raya sehingga mudah dijangkau. Secara astronomis terletak pada koordinat: 49 M 0819390 dan UTM 9192758.

Sayangnya, kawasan di sekitar bukit sudah tergerus penambangan batu dan pasir.  (Dardanella)

Diskusikan di Facebook