Makna Ketupat Ternyata Dalam

Ikon Idulfitri khas Nusantara

17

KETUPAT atau kupat hampir pasti selalu ada daftar menu Lebaran, merupakan kependekan dari ‘ngaku lepat’, dari bahasa Sunda atau Jawa, yang berarti mengakui kesalahan.

Itulah mengapa pada Idulfitri, saat orang saling meminta dan memberi maaf, selalu ada ketupat.

Idulfitri atau biasa disebut Lebaran juga erat kaitannya dengan “Laku Papat”. Keempat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

Jadi maksud hidangan ketupat yang pada zaman dahulu selalu disajikan dengan santan di lingkungan keluarga adalah semua –istri, suami, anak, serta cucu– silih hapunten (saling memaafkan).

Bila ketupat santan itu diantarkan kepada tetangga dan orang-orang tua, antaran itu bagi yang memberi bermakna ia mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukan, baik disengaja atau tidak, baik lahir maupun batin, dan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas hal tersebut. Antaran ketupat santan itu kemudian dibalas dengan santan pula, yang bermakna bahwa disamping yang membalas kiriman telah memberi maaf atas kesalahan orang yang mengirim kupat, ia juga minta maaf atas segala kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Dari Zaman Sunan Kalijaga

Kuliner ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang pertama kali memperkenalkannya kepada masyarakat Jawa.

Sunan Kalijaga disebutkan membudayakan dua kali Bakda kepada warga, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, di antaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Bentuk persegi ketupat juga diartikan masyarakat Jawa sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ada yang memaknai kiblat papat limo pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat (kiblat).

Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer (tujuan): Tuhan yang Maha Esa. Kiblat papat limo pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi jawa marah (emosi), aluamah (nafsu lapar), supiah (memiliki sesuatu yang bagus), dan mutmainah (memaksa diri).

Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini. | TERAS

Diskusikan di Facebook