Monyet Gunung Tunggilis Acak-acak Kebun Warga di Tiga Desa

Kepala Desa Kutawaringin Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Sarif Zaenal Arifin (Jaket Kuning).*

KAPOL.ID –
Sudah hampir beberapa bulan ini masyarakat Kampung Cipeundeuy Desa Kutawaringin Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya resah.

Tingkah segerombolan monyet yamg berjumlah ratusan merusak tanaman yang berada di kebun.

Hampir setiap hari menjarah tanaman seperti singkong, jagung, ubi, pisang bahkan pepaya.

Warga kebingungan, karena hasil kebun sejak dulu menjadi sumber penghasilan masarakat, kini malah jadi dimakan monyet.

“Bukan bingung lagi, pusing pak. Karena kalau diusir, apalagi dengan cara yang kasar.”

“Bukannya pergi, tapi malah balik menyerang kita. Karena jumlahnya banyak sekali,” terang Kepala Desa Kutawaringin, Sarif Zaenal Arifin.

Tingkah monyet yang membabi-buta tersebut, baru bulan bulan ini saja. Sebelumnya jarang sekali terjadi.

“Sejak dulu juga di Gunung Tunggilis ini memang monyetnya banyak bahkan babi hutan juga ada.”

“Tapi jarang turun sampai ke kebun warga, sehingga tidak pernah merasa terganggu,” katanya.

Padahal pemukiman penduduk berjarak 300 meter dari sisi terluat hutan Gunung Tunggilis.

“Biasanya ada tiga sampai lima ekor yang sering terlihat berkeliaran di perkampungan penduduk.”

“Tapi belum pernah ada yang sampai mengigit, apalagi merusak rumah warga. Bahkan terkadang dikasih makan oleh warga,” jelasnya.

Ia menenggarai, populasi monyet semakin tinggi. Sementara makanan alami di dalam hutan makin berkurang.

Pada akhirnya banyak monyet yang keluar dari hutan untuk mencari makanan.

“Ternyata bukan hanya dirasakan oleh warga Desa Kutawaringin, juga desa yang berdampingan seperti Kawungsari dan Tajungsari,” paparnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut dia warga yang tinggal di tiga desa khususnya di sekitar pinggiran Gunung Tunggilis, tidak ada lagi yang menanam pohon buah-buahan.

“Sejak ditanami pohon pohon kayu, memang tidak ada yang dijarah monyet, jadi warga pun menjadi tak khawatir lagi.”

“Namun menikmati hasilnya membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa lima sampai tujuh tahun,” katanya.

Berbeda dengan tanaman seperti singkong, ubi, terong, jagung dan pepaya. Paling lama hanya enam bulan sudah bisa dipanen warga.

Ia berharap pemerintah bisa memberikan solusi, bagaimana caranya agar monyet tersebut tak keluar hutan lagi, mengganggu kebun warga.

“Kami bersama kepala desa kawungsari dan Tanjungsari sudah menyampaikan hal tersebut ke Pemkab Tasikmalaya.”

“Namun sampai saat ini belum ada jawabannya,” pungkasnya.***