Para Pewaris Pendekar Aom Turat

Tidak mengajarkan untuk menyerang

DUNIA persilatan Ciamis, tak akan lepas dari sang kreator, Raden Aom Tur’at.

Jurus-jurus Cimande, Cikalong, Sera, Syahbandar, dikawinkan. Hingga saat ini gaya bersilat yang dikembangkan Pendekar Ciamis legendaris itu menjadi kebanggaan padepokan-padepokan di tatar Galuh. Salah satunya Padepokan Silih Wawangi, yang diusung Ade Macan (60).

“Setiap serangan tidak ditahan, tetapi dibuang dan mengikuti ketidakseimbangan posisi badan lawan,” katanya.

Aom Turat

Ade Macan, termasuk salah seorang yang mewarisi aliran Aom Tur’at. Berlatih sejak usia 16 tahun, dari Abah Ili Romli, tokoh penerus Aom Tur’at. “Berlatih harus serius. Harus diingat, matih tuman batan tumbal. Membiasakan diri dan disiplin bisa menjadi kekuatan,” ujar Ade.

Pencak silat Aom Tur’at, sepanjang penghayatan Ade Macan, tidak mengajarkan untuk menyerang. Kecuali bila diserang, baru menjadi bahan.

“Ibarat ada tamu yang datang. Kita perlu membuka pintu, dan saat pulang harus dibekali. Pada umumnya pesilat sejati tak akan menganggap enteng kepada semua orang. Prinsipnya, sieun henteu, wani henteu. Bahkan pencak silat betul-betul menjadi media untuk mempererat dan mengentalkan tali silaturahmi dengan siapa pun,” ujarnya seraya mengenang, sebutan Macan adalah pemberian dari Kapolres Ciamis, AKBP Samsa ketika dirinya menjadi juara pertama pada Kejurda Pencaksilat di Cirebon tahun 1972.

Di Handapherang — tempat Aom Tur’at mengembangkan padepokan — pencak silat terus dipupuk. Seperti yang digelorakan Kepala SMK Miftahussalam Ciamis, Dadan Apip Hamdan. Di sekolah itu digelorakan jurus-jurus pencak silat Aom Tur’at.

“Kami ingin menjaga kekayaan budaya lokal yang sangat bernilai ini. Salah satunya menjadi agenda penting sekolah,” katanya. Pihaknya bahu membahu dengan Padepokan Sekar Kamulyan.


Pelbagai sumber

Diskusikan di Facebook