Pesonamu UMBandung; Rektor Menyoal Era Ketidakpastian

  • Bagikan
Rektor UMBandung, Herry Suhardiyanto menyampaikan pesan kepada mahasiswa baru UMBandung.

KAPOL.ID—Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung), Herry Suhardiyanto menilai saat ini sebagai era ketidakpastiaan. Ia berpesan agar mahasiswa menyediakan bekal dengan beberapa kemampuan.

Menurut Herry, salah satu indikator era ketidakpastian adalah terjadinya pergeseran penduduk ke daerah perkotaan, sekitar 68 persen. Sementara jumlah penduduk juga diperkirakan akan meningkat tajam.

“Era ketidakpastian ini sering disebut juga sebagai volatility. Situasi yang penuh uncertainty, kompleks dan ambigu. Maka kita perlu menyiapkan diri; di antaranya dengan kemampuan teknologi, kecakapan inovasi, kreativitas, kemampuan kerja sama atau kolaborasi, pola pikir yang adaptif, komitmen dan fleksibilitas yang baik,” terang Heery.

Herry sendiri menyampaikan amanat tersebut di hadapan sebanyak 1.510 mahasiswa baru UMBandung. Mereka mengikuti kegiatan Pekan Sosialisasi dan Orientasi Mahasiswa Baru (Pesonamu) 2021, Senin (04/10/2021).

Di samping keterampilan, lanjut Herry, bekal untuk menghadapi era ketidakpastian adalah kemampuan menyelesaikan masalah yang rumit dan kompleks. Komunikasi, menganalisis data dan melakukan klarifikasi dengan banyak hal merupakan modal berharga.

Rektor UMBandung juga mengajak mahasiswa baru untuk mensyukuri nikamat Allah, yang mengaruniakan Indonesia sebagai tanah air kaya potensi, dari Sabang hingga Merauke. Indonesia juga memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itulah mahasiswa dituntut untuk kiat belajar.

Ada demografi yang luar biasa di Indonesia. Saat ini penduduk Indonesia sekitar 253 juta jiwa, berpotensi mencapai 305 juta jiwa pada 2035. Sementara pada sektor perekonomian, Indonesia termasuk 16 besar ekonomi dunia, bahkan diperkirakan akan menjadi 7 besar.

Dari total penduduk Indonesia, sebanyak 67,9 persen di antaranya berusia produktif, antara usia 15 hingga 64 tahun. Jumlah generasi muda Indonesia lebih besar dibandingkan Amerika dan Jepang.

“Jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas, sekaligus penciptaan lapangan pekerjaan yang memadai; maka bonus demografi hanya akan mendorong tingginya angka pengangguran dan kriminalitas,” mantan Rektor IPB itu  memperingatkan.

  • Bagikan