PGRI Kab Tasik Optimis Mendikbud Bisa Berantas Mafia Pendidikan

TASIKMALAYA, (KAPOL).- PGRI Kabupaten Tasikmalaya menyambut baik gebrakan yang dilakukan menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru Nadim Makarim.

Menteri paling muda itu memiliki sejumlah gebrakan yang membuat banyak orang tercengang terutama kalangan dunia pendidikan.

Bos Gojek itu berjanji akan memangkas sejumlah regulasi yang membebani guru yang bersifat administratif.

“Kami PGRI Kabupaten Tasikmalaya sangay optimis langkah yang diambil pak menteri sangat tepat dalam menyelamatkan dunia pendidikan,” kata Ketua PGRI Kabupaten Tasikmalaya Akhmad Juhana.

Kata dia saat ini ruang guru terus dibelenggu dengan aturan administratif yang sangat memberatkan.

Tugas guru itu sangat mulai namun dibebani dengan regulasi yang menyulitkan.

Langkah yang diambil Nadim Makarim sangat tepat dalam upaya memberantas mafia pendidikan.

Mengingat selama ini pendidikan kerap dimanfaatkan untuk kepentingan proyek yang bernilai triliunan.

Pajak

Dijelaskan Akhmad Juhana, di dunia pendidikan juga ada mafia yakni para pemangku kebijakan yang membuat regulasi dengan memberatkan ke bawah dan mengakses anggaran ke pusat sebesar-besarnya.

“Jelas langkah pak menter barusudah membuat banyak kalangan kebakaran jenggot. Terutama kalangan yang menghabiskan anggaran untuk program berbasis proyek.Langkah ini harus ditindaklanjuti dengan keluarnya regulasi yang jelas,” tegas dia.

Nadim Makarim sebelumnya mengakui kalau tugas guru itu sangat mulia tetapi sering diberi aturan yang menyulitkan dibandingkan pertolongan.

“Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas,” ujarnya.

Guru, diakui Nadim, tahu betul jika potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Termasuk adanya kurikulum pendidikan yang membatasi ruang gerak anak untuk belajar di dunia sekitarnya.

“Guru tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Guru ingin setiap murid terinspirasi, tetapi tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi,” katanya..(KP-03)***

Diskusikan di Facebook