Terhubung dengan KAPOL

OPINI

Quo Vadis Kongres PAN 2020? Berbeda dalam Satu Tujuan

|

Deni R Sagara | Kader PAN, Alumni Fakultas Filsafat UGM

Kongres Partai Amanat Nasional tahun 2020 semakin dekat. Bendera PAN harus terus berkibar dalam memperjuangkan kepentingan ummat,bangsa dan negara. PAN di masa depan harus mampu menjadi panutan dan tempat menyandarkan harapan masyarakat indonesia yang sangat heterogen.

Sejak kelahirannya, PAN belum pernah naik menjadi partai besar dan selama ini tetap berada di posisi tengah,numun dengan spirit intelektualitasnya PAN selalu menjadi magnet poros alternatif yang berada di tengah.
Kondisi ini harus menjadi perhatian serius semua kader bagaimana PAN di masa depan menjadi partai besar.

Menjelang kongres 2020, muncul dua pandangan yakni ketua umum itu cukup satu periode dan juga bisa dua periode. Keduanya memiliki argumen berbeda dengan tujuan yang sama untuk membesarkan PAN.

Tesis dari sebagian kader dan didukung pendiri partai Prof Dr HM. Amien Rais menyebutkan ketua umum,itu cukup satu periode. Dan sejauh ini ketua umum menjabat satu periode. Posisi PAN masih berkutat di jajaran tengah saja belum menjadi partai besar.

Maka bagi sebagian kader lainnya, anti tesisnya adalah ketua umum PAN harus dua periode. Periode kedua sudah mempunyai pengalaman periode pertama untuk dilakukan evaluasi dan tahu mana kekurangan, potensi serta tantangan ke depan untuk membawa PAN lebih besar lagi.

Dialektika menurut Georg Wilhelm Friedrich Hegel (teori Hegel) adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi). Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empiris indrawi.

Maka kepada pendukung satu periode dan dua periode, keduanya senantiasa menyajikan argumen rasional yg jelas berbeda tapi dengan spirit tujuan yang sama. Yakni sama sama untuk menjadikan PAN lebih besar. Berbeda dukungan untuk satu tujuan yang sama adalah dinamika dialektis.Maka dari itu pendukung satu periode berjuang dengan argumentasinya dan pendukung dua periode harus lebih totalitas dalam berjuang karena ingin membangun tradisi baru.

Proses komunikasi politik antara calon ketua umum dengan seluruh pemilik suara sedang terus berjalan dengan dinamikanya.
Kini kongres sudah sangat dekat. Sangat terhormat apabila semua pihak saling menghormati dengan penuh keterbukaan dengan kejelasan sikap politik untuk menentukan pilihan. Toh keduanya memiliki tujuan yang sama untuk membesarkan dan menjadikan PAN lebih besar lagi.

Yang justru menjadi “unik” adalah mereka yang tidak jelas sikapnya,ketika bertemu dengan pendukung satu periode bilang harus satu periode. Kemudian setelah itu mereka bilang lanjutkan dua periode di pertemuan lainnya. Dan perilaku itu adalah perilaku yang “unik”.

Dalam Quran surat Nahl ayat 92 Allah menjelaskan bagaimana sikap yang harus dihindari :

وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّتِیۡ نَقَضَتۡ غَزۡلَہَا مِنۡۢ بَعۡدِ قُوَّۃٍ اَنۡکَاثًا ؕ تَتَّخِذُوۡنَ اَیۡمَانَکُمۡ دَخَلًۢا بَیۡنَکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ اُمَّۃٌ ہِیَ اَرۡبٰی مِنۡ اُمَّۃٍ ؕ اِنَّمَا یَبۡلُوۡکُمُ اللّٰہُ بِہٖ ؕ وَ لَیُبَیِّنَنَّ لَکُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

*”Siang menenun malam mengurai,siang satu periode,malam lanjutkan dua periode”*

Berbeda pilihan dengan Pak Amien Rais ,bukan berarti melawan Pak Amien. Justru mereka yang seperti bersama Pak Amien,tapi sejatinya ketika cuaca tertentu berubah arah, inilah sikap yang justru “mencedarai” terhadap Pak Amien itu sendiri dan begitu pun sebaliknya bagi pendukung lanjutkan dua periode.

Saya berfikir bahwa Pak Amien Rais sebagai Profesor politik beliau sedang menguji seluruh kader PAN untuk mempertahankan dan mensukseskan ide gagasan besar baik itu satu periode ataupun dua periode,sekalipun seakan seperti harus berhadapan dengan Pak Amien Rais. Sehingga proses demokrasi di PAN akan berjalan dengan dinamika intelektual dan bisa menghasilkan sebuah proses dan hasil yang berkualitas.

Tidak mudah untuk menjaga tradisi satu periode. Pun demikian tidak mudah juga membangun tradisi baru lanjutkan dua periode. Pak Amien jelas akan lebih merasa dihormati ketika kadernya jelas bersikap meskipun berbeda. Kenapa demikian karena Pak Amien adalah sosok yang sangat demokratis yang telah melahirkan banyak perubahan di negeri ini.

Bagi saya sebagai kader muda PAN, pemimpin itu yang senantiasa punya karakter kesantunan intelektual dan berdiri kokoh menjadi dirinya sendiri, mempunyai ide besar gagasan cemerlang dengan narasi literatif yang siap menerima berbagai masukan, kritikan, dan selalu memegang komitmen bersama yang sudah dibangun.

لَيسَ الفَتَى مَن يَقُولُ هَذَا أَبِى
لَكِنَّ الفَتَى مَن يَقُولُ هَا أنَادَى

Pemimpin itu adalah yang berani mengatakan inilah saya.

“Jatuh bangunnya Partai ini sangat tergantung dari seluruh kader partai ini sendiri. Makin pudar etika,persatuan dan kepedulian, PAN hanyalah sekedar nama dan gambar matahari bersinar. Jangan mengharapkan rakyat respek terhadap Partai ini bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara kader separtai, merusak dan menebar kebencian serta fitnah”

Diskusikan di Facebook

Silakan mengirim pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *