OPINI  

Refleksi Perjalanan Politik Menuju Pilkada Tasikmalaya 2020

Saat Ayah saya hijrah ke Jakarta sekitar Tahun 1968. Suasana politik waktu itu merupakan masa transisi dari orde lama ke orde baru. Mendirikan Perusahaan Otobis Mayasari yang bergerak pada sektor transportasi tentu tidaklah mudah.

Ayah saya mengawalinya tentu dari bawah, bis bekas dari Tasikmalaya baru kemudian hijrah ke Jakarta, menjelma jadi penguasa tranportasi darat di jakarta khususnya bis kota dengan bendera PT Mayasari Bakti dan memasuki generasi kedua membangun puluhan PT (Perseroan Terbatas) dengan berbagai bidang di bawah bendera grup Mayasari.

Hanya saja awal perjalanan bisnis transportasi yang kini dianggap perusahaan jasa transportasi besar di Indonesia bahkan internasional itu tak bisa di lepaskan dari persinggungan membangun hubungan dannkomunikasi politik dengan “penguasa politik”

Pada setiap perkembangan politik, Ayah saya meskipun dikenal awalnya sebagai pendukung berat PPP di Tasikmalaya, tapi ketika menjalankan bisnis di Jakarta bisa masuk dalam jejaring politik kekuasaan Golkar waktu itu.

Bagi Keluarga Besar Mayasari, Politik itu penting, keberpihakan politik itu penting, tak ada istilah netral atau bahkan absen dalam politik. Selama Orde Baru boleh dibilang masa awal Mayasari menancapkan dan mengokohkan kuku bisnis transportasi di Jakarta hingga bisa seperti saat ini.

Ketika masuk masa Reformasi, sirkulasi kekuasaan berlangsung secara dinamis Mayasari juga ikut terlibat secara politik. Saat Pilpres langsung pertama, Mayasari mendukung Amien Rais, kemudian putaran kedua dan 2009 Mendukung Susilo Bambang Yudhoyono. 2014 dan 2019 mendukung capres Prabowo Subianto.

Pasang surut politik di republik ini selalu Mayasari ikuti dan terlibat di dalamnya. Sehingga menang ataupun kalah. Perjalanan bisnis Mayasari tetap berjalan dan terus berkembang.

Boleh dibilang Mayasari bisa dan mampu bertahan di segala zaman dan rezim kekuasaan, tanpa terdampak sikap dan pilihan politik.

Itu karena sikap dan prinsip profesionalisme dalam mengelola dan mengembangkan bisnis. Membangun kemanfaatan dan kemaslahatan serta ikut terlibat dalam menjaga sektor ekonomi bidang transportasi.

Menuju Pilkada Tasikmalaya

Ketika 2020 ini ramai diberitakan pilkada serentak di Indonesia, dari 270 daerah provinsi/kabupaten/kota salah satunya adalah daerah kelahiran saya Kabupaten Tasikmalaya.

Saya lahir dan besar hingga menyelesaikan jenjang pendidikan SMA di Tasikmalaya. Pernah merasakan hidup di dunia pesantren, merasakan dinamika gerakan Islam di Tasikmalaya hingga akhirnya saya menghabiskan separuh perjalanan hidup saya ikut mengelola dan mengembangkan bisnis di Ibukota Jakarta bersama keluarga besar H Mahpud (kakak dan adik-adik saya).

Secara ekonomi saya sudah merasa cukup. Saya selesai dengan kehidupan finansial saya. Hanya muncul satu getaran dalam hati dan bathin saya, ingin mengabdi ka lemah cai, ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat secara luas bagi masyarakat di tanah kelahiran saya Tasikmalaya.

Ketika dua anggota keluarga Mayasari ikut berkontestasi pada pileg 2019 lalu dan berhasil memenanginya dengan suara yang sangat meyakinkan, maka ada rembugan Keluarga Besar Mayasari yang diinisiasi oleh adik Saya, Amir Mahpud (H Aming) menyikapi even politik lebih lanjut di Kabupaten Tasikmalaya yaitu Pilkada memilih Bupati dan Wakil Bupati. Memilih pemimpin Kabupaten Tasikmalaya.

Akhirnya keluarga besar kami menyepakati menugaskan saya untuk maju sebagai calon Bupati. Karena dorongan keluarga sudah bulat, dan diawali dengan istikharah mohon petunjuk dari yang Mahakuasa Alloh Swt, serta meminta beberapa ulama tertentu memperkuat istikharah sebagai isyarat langitnya, akhirnya saya Bismillah maju pada Pilkada 2020 nanti.

Prinsip saya, ketika sudah maju maka tentu harus serius dan sungguh-sungguh bekerja. Niat lillaah dan berjuang sekuat tenaga. Hingga saya mulai melakukan langkah-langkah politik lebih lanjut.

Saya mengawali dengan mengunjungi tak kurang dari 100-an ulama pimpinan pesantren yang ada di Kabupaten Tasikmalaya, saya bersillaturrahmi dan memohon doa akan niat dan maksud saya.

Ada juga kelompok ajengan tajug yang sudah ada di sekitar 15 titik wilayah kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yang masing-masing sudah ada koordinatornya, setiap titik ada 80-100 ajengan tajug yang selalu dijaga sillaturrahmi dan di dengar masukan masukan berharganya.

Lalu saya melakukan kunjungan sillaturrahmi di lebih 50 titik dari 39 Kecamatan yang ada yang di hadiri tak kurang dari 1000 orang. Ada yang sampai 2000 bahkan 2500 orang satu titik pertemuan.

Mereka tentu saja para tokoh masyarakat dan juga kalangan dhuafa. Saya juga mengahdiri puluhan undangan pengajian umum masyarakat baik yang rutin bulanan maupun PHBI tertentu seperti Muludan, Muharraman dan Rajaban serta Imtihanan.

Hanya karena perkembangan terbaru terkait wabah Covid-19 sesuai anjuran pemerintah, semua aktivitas bertemu dan berkumpul sillaturrahmi dengan masyarakat terpaksa saya hentikan.

Secara pribadi tentu saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang ingin mengundang saya hadir bertemu dan bersillaturrahmi untuk sementara tidak saya penuhi hingga situasi dan kondisi benar-benar terkendali dan normal kembali.

Dari semua aktivitas dan perjalanan politik saya beberapa bulan terakhir tersebut, Saya sungguh surprise dengan respon dan sambutan mereka. Terkadang saya sampai meneteskan air mata. Terharu.

Ternyata rakyat Tasikmalaya merindukan sesuatu, mereka masih menyisakan harapan akan hadirnya pemimpin Tasikmalaya yang care dan peduli pada kehidupan mereka. Pemimpin yang sudah selesai dengan kehidupan pribadinya tidak berniat menumpuk harta apalagi mrlalui jalan korupsi. Pemimpin yang semata memikirkan kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya.

Dari semua peristiwa dan perjalanan yang saya lihat saya dengar dan saya saksikan, saya memahami apa yang semestinya saya lakukan jika Allah Swt mentakdirkan saya memimpin Kabupaten Tasikmalaya. Bahwa anggaran rakyat melalui APBD ke depan semestinya di berikan seluas luasnya untuk dirasakan manfaatnya bagi rakyat.

Kehadiran seorang pemimpun di tengah-tengah rakyatnya merupakan terapi nyata menyatunya hati dan rasa antara rakyat dengan pemimpinnya. Pengalaman saya mengelola bisnis spiritnya akan saya implementasikan dalam bentuk transformasi kepemimpinan mewujudkan good corporate governance. Mewujudkan budaya kerja organisasi pemerintahan yang effektif dan effisien dengan semangat reformasi birokrasi yang berkelanjutan.

Saya meyakini, Spirit Mayasari akan bisa mewarnai. Menuju Tasikmalaya yang lebih Berkharisma, Tasikmalaya yang Bersih, Kreatif, Harmoni, Islami, dan Maju.