KANAL

Sekum DPW PPSI Jabar: Mengapa Saat Budaya Sunda Bangkit Harus Dicurigai

×

Sekum DPW PPSI Jabar: Mengapa Saat Budaya Sunda Bangkit Harus Dicurigai

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Fenomena kebangkitan simbol budaya Sunda di ruang publik belakangan ini kerap memicu reaksi beragam, bahkan tak jarang memunculkan narasi negatif yang bernada kegelisahan dari sebagian pihak.

​Kondisi tersebut mendapat sorotan tajam dari Sekretaris Umum (Sekum) DPW Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Jawa Barat, Deden Dinar Mukti. Ia menilai ada standar ganda ketika masyarakat Sunda mulai menunjukkan identitas budayanya.

​”Setiap kali Sunda bangkit dan mengangkat simbol budayanya, selalu saja ada yang gelisah. Narasi negatif dimunculkan seolah ini ancaman. Tapi anehnya, ketika suku lainnya menampilkan kebudayaan mereka, semua dianggap wajar bahkan dibanggakan. Lalu kenapa Sunda harus dicurigai?” ujar Deden, Rabu (6/5/2026).

​Deden menegaskan bahwa bangkitnya simbol-simbol Sunda belakangan ini bukanlah upaya menghidupkan kembali sistem pemerintahan masa lalu atau “rarajaan”. Menurutnya, ini adalah murni gerakan jati diri dan identitas yang selama ini tertekan.

​Ia menekankan bahwa yang dihidupkan kembali adalah nilai-nilai kebijaksanaan leluhur, bukan soal perebutan tahta atau kekuasaan lama.

​”Justru yang takut pada kebangkitan budaya Sunda ini patut dipertanyakan. Takut pada budayanya, atau takut pada munculnya kesadaran kolektif rakyatnya?” tegasnya.

​Lebih lanjut, Deden melihat kebangkitan ini sebagai pengikat kesatuan masyarakat Sunda di tengah gempuran modernitas dan proxy war yang perlahan mengikis identitas bangsa. Baginya, ini adalah bentuk perlawanan kultural untuk masa depan.
​Dalam konteks kepemimpinan, Deden memberikan apresiasi khusus terhadap langkah yang diambil oleh Gubernur Jawa Barat saat ini.

​”Apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, adalah bentuk keberanian menghadirkan budaya ke ruang publik. Budaya bukan sekadar pajangan, tapi kekuatan. Tidak semua pemimpin berani berdiri kokoh di akar budayanya sendiri,” tambahnya.

​Baginya, pesan yang ingin disampaikan sudah sangat jelas: nilai leluhur Sunda masih hidup dan tidak bisa lagi dipinggirkan.

​”Pertanyaannya bukan lagi kenapa Sunda bangkit, tapi kenapa ketika Sunda bangkit, justru ada pihak yang berusaha melemahkannya?” pungkas Deden. (Am)