KAPOL.ID — Para petani Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya; menjerit. Selama lebih kurang 16 tahun mereka tidak dapat memanfaatkan lahan yang produktif. Sebab air dari irigasi Ciramajaya tidak sampai ke ladang mereka.
Selama belasan tahun itu, warga Tanjungjaya bukan tidak berupaya. Berkali-kali mendesak pemerintah untuk segera membantu revitalisasi irigasi Ciramajaya. Memang sempat turun bantuan, tetapi pembangunan belum sampai ke hilir.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi lantas menunjau irigasi Ciramajaya; sebagai upaya meredakan jeritan warganya itu. Turut mendampinginya antara lain tokoh masyarakat, Camat Tanjungjaya, serta perwakilan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat.
“Kondisinya memang mengkhawatirkan. Besi pada pintu-pintu air juga sudah berkarat. Irigasinya memang kering, tidak ada air setetes pun. Ini intinya masalah kemanfaatan, bahwa ada fasilitas negara yang terabaikan,” ujar Asep Sopari.
Pada kesempatan itu Asep Sopari juga mengaku malu. Apalagi secara pribadi ia pernah menggaungkan sebuah slogan “Rehab Tuntas”. Slogan itu sebuah janji yang menagih implementasi.
“Kalau sudah berjanji tentunya harus menepati. Saya tidak mau slogan ‘Rehab Tuntas’ itu hanya omon-omon. Pak Prabowo juga bilang jangan omon-omon, harus dikerjakan!” tegas Asep Sopari.
Irigasi Ciramajaya memang persoalan yang menahun. Bahkan pemerintah sudah mencanangkan sejak 2010 bahwa kawasan di sekitar irigasi ini sebagai area sawah produktif. Tentu tidak terealisasi, karena sawah sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan air.
Irigasi Ciramajaya sendiri memiliki panjang total 16 kilometer. Bagian hulunya di Kecamatan Mangunreja, melewati Tanjungjaya, berujung di Kecamatan Sukaraja. Sungai sepanjang itu baru teralisi air sepanjang 10 kilometer saja.
Faktor penyebabnya cukup kompleks. Antara lain volume air dari bagian hulu memang kurang, kemudian terjadi sumbatan dan kebocoran di sana-sini. Alhasil, sistem gilir dengan membuka-tutup pintu air pada beberapa titik tidak lagi efektif.
Puncak dari kekeringan itu, luas lahan yang terbengkalai sangat signifikan. Antara 400 hingga 500 hektare lahan sawah tak dapat ditanami, apalagi sampai dapat memanen hasil.
Solusinya tidak ada lagi, selain harus melakukan revitalisasi saluran irigasi demi normalisasi arus air; dari hulu hingga hilir. Untuk itu, Asep Sopari berkomitmen bahwa pihaknya sekuat tenaga akan berupaya melobi Pemerintah Pusat dan Provinsi. Syukur-syukur dapat terealisasi melalui Instruksi Presiden (Inpres) mengenai revitalisasi irigasi tahun ini.
“Insya Allah, kami akan perjuangkan agar 2027 nanti revitalisasi ini terlaksana. Kami ingin saluran ini kembali fungsional secara normal,” tekan Asep Sopari.
Selanjutnya, Asep Sopari meminta kesadaran warga untuk turut membantu jika jika nanti ada penertiban lahan untuk keperluan revitalisasi irigasi. Sebab boleh jadi ada warga yang memanfaatkan lahan milik pemerintah itu.
“Saya imbau juga nanti warga untuk sadar diri kalau ada penertiban lahan. Jangan menghalangi proses revitalisasi karena ini tanah negara untuk kepentingan bersama. Ke depan juga jangan buang sampah ke irigasi karena selain merusak ekosistem juga sebagai dosa terhadap alam,” pungkas Asep Sopari.
Di pihak lain, tokoh masyarakat Desa Cibalanarik; Oos Basor menyampaikan pesan terbuka kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar memberikan perhatian khusus pada urusan perut petani.
“Saya mohon dengan sangat, jangan hanya jalan saja yang diperbaiki, tapi perut rakyat dari sektor pertanian paling utama. Sudah hampir 17 tahun warga Tanjungjaya tidak melihat air mengalir di sini,” kata Oos.
Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv










