Oleh: Azis Abdullah
Sejarah panjang Partai Golkar dalam panggung politik nasional adalah riwayat tentang daya tahan, keberlanjutan kaderisasi, dan seni mengelola dinamika.
Sebagai institusi politik yang berakar pada doktrin “Karya dan Kekaryaan”, partai berlogo pohon beringin ini kerap diidentikkan dengan predikat Partai “Buhun” sebuah simbol kedewasaan, kematangan akar sejarah, dan konsistensi pengabdian tanpa henti bagi kemaslahatan publik.
Riak-riak kedewasaan berorganisasi itu kini kembali terpancar terang di bumi Tatanan Cadas Pangeran.
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI DPD II Partai Golkar Kabupaten Sumedang, ruang publik kembali disuguhkan atraksi politik yang sehat, elegan, dan sarat nilai kepemimpinan.
Menurut penulis, Musda kali ini bukan sekadar ritual formalistik pergantian estafet kepemimpinan dari Ketua DPD saat ini, H. Sidik Jafar. Lebih dari itu, forum tertinggi ini menjadi bukti sahih betapa mesin institusionalisasi politik Golkar Sumedang berdetak kencang, melahirkan deretan kader terbaik yang siap melanjutkan warisan pengabdian.
Dinamika menjelang Musda ke-XI membuktikan betapa suburnya laboratorium kaderisasi Golkar di Sumedang. Mengemukanya lima nama figur potensial ke permukaan menjadi penanda vitalitas organisasi yang amat prima. Kehadiran para pilar ini mencerminkan kombinasi ideal antara jam terbang legislatif dan ketajaman manajerial partai:
Sonia Sugian (Anggota DPRD Sumedang)
Asep Kurnia (Anggota DPRD Sumedang)
Ari Budiman (Anggota DPRD Sumedang)
Yuslita Sumartini Bilqis (Anggota DPRD Sumedang)
Yogi Yaman Santosa (Sekretaris DPD Partai Golkar Sumedang)
Penulis menilai, munculnya figur-figur berdedikasi tinggi ini bukanlah penanda keretakan, melainkan manifestasi dari kekayaan opsi kepemimpinan. Dalam tradisi politik Golkar, rivalitas internal tidak pernah dimaksudkan untuk membelah, melainkan memperkaya perspektif demi kemajuan partai dan kesejahteraan warga Sumedang.
Di tengah hangatnya diskursus publik mengenai keputusan H. Sidik Jafar yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua DPRD Sumedang untuk memberikan ruang transisi dan tidak mencalonkan diri kembali, publik justru menyaksikan sebuah keteladanan politik yang tinggi. Penulis beranggapan, sikap legawa ini menegaskan bahwa regenerasi di tubuh Golkar berjalan secara matang, terukur, dan bermartabat.
Sambil menanti hasil Rapat Koordinasi DPD I Golkar Jawa Barat sebagai acuan teknis dan prosedural pelaksanaan Musda, seluruh elemen kader di Sumedang membuktikan soliditas yang mengagumkan.
“Pohon beringin boleh digoyang angin dinamika, namun akarnya yang terhujam kuat dalam prinsip kebersamaan membuat seluruh kader tetap berdiri kokoh dalam satu komando.”
Menurut penulis, kematangan struktur Golkar Sumedang menjadi jaminan bahwa perhelatan suksesi ini akan bermuara pada kesepakatan yang sejuk. Apapun mekanisme seleksi formal yang dijalankan kelak, nilai-nilai keutuhan dan komitmen pada pengabdian rakyat tetap menjadi panglima.
Dengan fondasi sejarah yang kuat, soliditas internal yang terjaga, serta ketersediaan stok kepemimpinan yang melimpah, penulis meyakini Musda ke-XI DPD Partai Golkar Sumedang dipastikan menjadi panggung pembuktian.
Pohon beringin di Sumedang tidak hanya siap menyongsong estafet kepemimpinan baru, tetapi juga siap mengayomi, mengabdi, dan terus mengukir karya nyata bagi masa depan Kabupaten Sumedang yang lebih gemilang.***












