KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Momen Peringatan Hari Anak Nasional jadi pemicu bagi Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat untuk menancapkan taringnya dalam menjaga generasi muda dari gempuran arus informasi.
KPID Jabar secara resmi menggeber kick-off Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) 2026 di SD Interaktif Gemilang Mutaffanin, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (23/7/2026).
Acara yang berlangsung semarak ini diisi dengan storytelling, edukasi bijak bermedia, hingga peluncuran ikon “Siaran Ramah Anak”. KPID Jabar tak bergerak sendiri; sederet mitra kawakan turut dirangkul, mulai dari RRI Bandung, Lemhannas, PRSSNI, Unpas, hingga Unikom.
Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar menegaskan, benteng perlindungan anak era kini tak lagi cukup hanya di dunia nyata, melainkan harus diperketat di ruang digital yang kian liar.
”Hari ini kami melaksanakan kick-off Harsiarda sekaligus agenda storytelling dan launching ikon Siaran Ramah Anak milik KPID Jawa Barat. Ini menjadi bagian dari upaya mengajak anak-anak lebih bijak dalam mengakses media,” ungkap Almadina di sela-sela kegiatan.
Almadina menyoroti penggunaan gadget yang makin tak terkontrol. Menurutnya, tanpa kawalan ketat dari orang tua, anak-anak sangat rentan terancam paparan konten negatif yang mengintai di jagat maya.
”Perlindungan anak saat ini juga harus mencakup media berbasis internet. Anak-anak perlu mendapatkan tayangan yang sesuai dengan kebutuhan dan usianya. Karena itu, pendampingan orang tua menjadi sangat penting,” tegasnya.
Ia pun membeberkan komparasi menarik. Media arus utama seperti televisi dan radio masih dibentengi regulasi serta klasifikasi siaran yang jelas. Hal ini berbanding terbalik dengan media internet yang pengawasannya kerap meloloskan konten tak ramah anak.
Data riset internal KPID Jabar pun cukup mengejutkan. Meski 99,8 persen Gen Z sudah melek internet, nyatanya keberadaan media konvensional belum sepenuhnya ditinggalkan. Sebanyak 87 persen Gen Z tercatat masih setia menonton televisi, dan 56 persen di antaranya masih mendengarkan radio.
Di tempat yang sama, Kepala SD Interaktif Gemilang Mutaffanin, Jajang Abdul Wahid, tak bisa menyembunyikan rasa apresiasinya atas langkah nyata KPID Jabar membentengi anak didiknya.
”Materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Anak-anak diajak memahami bagaimana membatasi penggunaan gadget dan memanfaatkannya untuk kegiatan belajar, bukan hanya hiburan,” ujar Jajang.
Jajang tak menampik, ketergantungan anak pada gadget kian melonjak sejak era pembelajaran jarak jauh masa pandemi lalu. Oleh karena itu, sinergi antara pihak sekolah dan orang tua murid menjadi harga mati.
”Kami berharap anak-anak bisa lebih bijak menggunakan gadget sehingga teknologi benar-benar menjadi sarana belajar dan mengembangkan kreativitas mereka,” pungkasnya. (FTH)












