OPINIPOLITIK

Haris Sanjaya Cawabup Santri Yang “Beyond” Lembaga Pesantren

×

Haris Sanjaya Cawabup Santri Yang “Beyond” Lembaga Pesantren

Sebarkan artikel ini

Oleh Usman Kusmana
Ketua LTN NU Kab Tasikmalaya
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sosial Unpas Bandung

Calon Wakil Bupati Haris Sanjaya bukanlah anak kiai. Bukan sosok yang identik dengan Keluarga pesantren. Dia hanyalah putra keluarga petani dari Cineam yang semenjak kecil mondok di Pesantren Bahrul Ulum Awipari hingga tamat Aliyah sambil aktif di organisasi Pelajar NU yaitu IPNU. Dan dekat dengan para Kiai kalangan pondok pesantren.

Selepas mondok, Haris meneruskan kuliah di STAI Tasikmalaya sambil aktif di organisasi kekaderan banom lingkungan Nahdlatul Ulama yaitu di IPNU dan PMII. Aktifitasnya full di basecamp kantor PCNU Tasikmalaya jl. Dr Sukarjo no.47.

Jadi sebagai aktifis Muda NU, Haris mondok di “pesantren” Jamiyyah Nahdltul Ulama. Haris menjelma menjadi aktifis santri NU yang matang dan malang melintang hingga berhasil menjadi Ketua IPNU Provinsi Jawa Barat. Hingga akhirnya terjun ke partai pasca reformasi tahun 1998 menjadi salah satu tim 11 perumus berdirinya PKB di Kabupaten Tasikmalaya.

Kemunculan Haris Sanjaya sebagai calon wakil bupati tidak lekat dengan simbol-simbol santri itu sendiri. Haris tidak muncul dengan assesories sarung, sorban dan kopiah yang seolah diidentikan dengan ciri santri dan pesantren.

Haris Sanjaya tidak mencoba lebay dengan mendadak daftar ke KPU dan konsolidasi ke lapangan dengan menggunakan sarung. Tapi visi dan gerakan yang dibangun benar-benar mencerminkan identitas kesantrian dan pikirannya adalah bagaimana santri dan pesantren menjadi bagian penting yang harus berdaya dan berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah terutama merawat ummat.

Kemunculannya tidak identik dengan pesantren sebagai lembaga tempat menuntut ilmu agama an sich dengan trah perjalanan pendidikannya. Tidak identik dengan nama lembaga pondok pesantrennya. Tapi Haris Sanjaya menjelma menjadi sosok santri yang “beyond” lembaga Pesantren.

Karena dalam pikiran-pikirannya, lembaga pesantren harus dijaga marwahnya. Jangan sampai karena mendapatkan ruang kesempatan dalam pengelolaan kebijakan pemerintah daerah lalu terlokalisasi menjadi hanya sebatas ruang untuk membela dan membesarkan lembaga pesantrennya semata.

Sehingga resikonya ketika ada mis policy atau mal administrasi dari langkah-langkah pengambilan kebijakannya yang dianggap hanya menguntungkan lembaga pesantrennya semata atau jejaringnya, lembaga pesantren tidak ikut terbawa mafsadatnya.

Oleh karena itulah, sebagai politisi santri, Haris Sanjaya melampaui (beyond) Pesantren dalam arti kelembagaan tertentu. Haris Sanjaya menjadi politisi santri yang membela dan memperjuangkan semua kelembagaan pondok pesantren yang ada di Kabupaten Tasikmalaya baik yang sudah mapan dan besar maupun yang masih berjalan pelan.

Semuanya menjadi bagian dari elemen penting pesantren yang kebijakannya menyeluruh dan utuh. Tidak parsial. Sehingga nilai-nilai yang muncul dalam ranah kebijakan yang di rumuskan dari pemerintah daerah adalah nilai-nilai sejati dunia pondok pesantren yaitu Islam Rahmatan Lil Alamiin, prinsip-prinsip Tasamuh, tawasuth, tawazun, i’tidal.

Sehingga sosok pemimpin daerah kedepan, benar-benar santri yang lahir dari lembaga pondok pesantren (dengan p kecil) dan juga dari Pesantren (dengan P besar) yaitu Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Untuk kemudian memperjuangkan semua eksistensi kelembagaan pesantren yang ada di Kabupaten Tasikmalaya secara adil.

Itulah makna, Haris Sanjaya Sebagai sosok politisi santri yang “Beyond” lembaga Pesantren. Yang kini maju sebagai Calon Wakil Bupati berpasangan dengan cabup H Azies Rismaya Mahpud dengan nomor urut 1. ***