Belajar Jarak Jauh Sudah Efektifkah?

Petugas menyemprotkan disinfektan di ruang kelas sebuah sekolah di tengah pandemi Covid-19 di Jakarta. (Foto: dok).

SUDAH sejak pertengahan Maret lalu sebagian besar pelajar di Indonesia menjalani proses belajar dari rumah di tengah pandemi virus corona. Dalam situasi darurat tersebut, bukan hanya para siswa yang dihadapkan pada tantangan untuk belajar jarak jauh, tapi juga orang tua.

Dian Chairani salah satunya. Ia tak pernah absen mendampingi putrinya, yang kini duduk di kelas satu sekolah dasar negeri di Jakarta, untuk belajar dari rumah. Dalam wawancara dengan VOA awal Mei lalu, ia menuturkan kekhawatirannya terhadap metode belajar dari rumah yang sejauh ini diterapkan sekolah sang anak.

“Jadi gurunya cuma ngirim materi lewat WA, difoto, terus dikerjakan. Apakah itu sama, pemahaman dia dengan anak-anak yang lain, itu yang saya pertanyakan, karena kan setiap Ibu mengajarkan tekniknya berbeda-beda nih,” kata Dian, yang kini seratus persen mendampingi buah hatinya belajar di rumah, setelah perusahaannya sempat menjalankan praktik work from home selama satu pekan.

“Pengennya ada kisi-kisi gitu juga, jadi kita yang jadi pendamping anak di rumah ini juga tahu sebenarnya target pembelajarannya ini apa,” sambungnya.

Sementara itu, Quinny, siswi kelas 4 sekolah dasar swasta di Bandung, Jawa Barat, mengaku kesulitan mempelajari mata pelajaran tertentu selama periode belajar dari rumah dua bulan terakhir. Salah satu metode belajar yang diterapkan sekolahnya adalah menyaksikan program pengajaran yang ditayangkan TVRI.

“Program di TVRI dijelasinnya akunya nggak ngerti, terus tanya ke Ibu. Ibunya harus nyari tahu dulu, biasanya ke Google, jadinya lama cari penjelasannya,” ungkapnya polos.

Feny Citra Febrianti, orang tua Quinny, mengaku bahwa mendampingi anaknya belajar di rumah seratus persen bukan perkara mudah. Selain berjibaku mencari cara terbaik menjelaskan materi dengan bahasa yang dipahami sang anak, ia juga sempat khawatir dengan pembiasaan pola belajar di rumah. Di samping itu, ia juga menyayangkan minimnya interaksi guru dan murid selama pelaksanaan belajar dari rumah.

“Minim banget, dari sekolahnya dia itu ada dua kali, jadi hanya beberapa kali ada kasih menerangkan. Itu tidak live, jadi dia kayak share video, biasanya link ke YouTube. Tapi setelah itu nggak ada lagi,” tutur Feny.

“Anaknya juga pengennya dijelasin sama guru, jadi minimal baik untuk materi baru maupun materi lama, lebih baik ada penjelasan lagi. Bisa aja udah lupa, bisa aja sebenarnya anaknya belum paham,” harapnya. [rd/em/voa]