Sekolah Dibawah SUTET Minta Kejelasan Keamanan

 

TANJUNGJAYA, (KAPOL).- Pihak SDN Cintaraja Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya kini meminta kejelasan dari pihak terkait, akan dampak dan resiko kedepannya melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bawah jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi) Jawa – Bali yang melintasi tepat di atas bangunan sekolahnya.

Pasalnya hingga 13 tahun berlalu jalur SUTET tersebut beroprasi, pihaknya sama sekali tidak diberi pemahaman dan kepastian terkait hal itu.

Padahal setiap hari para guru dan ratusan siswa di SDN Cintajaya dihantui ketakutan belajar di bawah saluran listrik bertegagan tinggi tersebut.

Kehawatiran makin menjadi manakala setiap turun hujan, maka ratusan siswanya terpaksa di pulangkan atau diliburkan.

Sebab jika berada di dalam kelas yang tidak jauh dari jaringan SUTET ini makan akan terdengar suara bising bergemuruh, layaknya dilewati pesawat terbang.

“Belasan tahun kami tidak mendapatkan kepastian dari PLN atau pihak manapun. Apakah hidup (belajar) di bawah jaringan SUTET ini memiliki resiko dan bahaya jangka panjang, baik untuk keselamatan maupun keamanan. Harusnya ada hitam diatas putih,” jelas salah seorang guru SDN Cintajaya, Aep Saefudin, Senin (19/8/2019).

Dijelaskan Saefudin, pada tahun 2002 lalu sekolahnya yang telah berdiri sejak 1982 dilalui oleh pembangunan jaringan SUTET Jawa-Bali milik PLN.

Pada tahun 2006 dilaksanakan aktivisi penyaluran aliran listrik bertegangan tinggi. Kala itu pun sempat menulai kepanikan pihak sekolah, karena dampaknya begitu terasa.

Selain terdengar suara kebisingan dari jalur SUTET, kala itu juga membuat benda di sekitarnya memiliki aliran listrik. Hal itu dibuktikan dengan besi yang menyala manakala ditempelkan tespen.

Bahkan lampu bolham pun iut menyala ketika ditempel ke tiang bendera.

Ketika bangunan rumah dan tanah disekitarnya yang dilalui SUTET mendapatkan konpensasi, sekolahnya tidak memperoleh.

Hanya saja ada uang sebesar Rp 25 juta dari Pemerintah Desa setempat yang diklaim sebagai konpensasi.

Sebab lahan yang dipakai bangunan SDN Cintaraja merupakan tanah pinjam pakai milik Pemerintah Desa Cintajaya.

“Kala itu pun sempat diukur oleh petugas PLN, jarak kabel SUTET dengan tanah, katanya 17 meter. Katanya masih aman, karena jarak bahaya 13 meter.

Namun itu secara lisan saja, saat dipinta secara tertulis, mereka tidak mau mengeluarkan,” tambah guru lainnya, Jajang Sujana.

Kehawatiran pihak sekolah dan 172 siswanya ini kembali muncul manakala beberapa pekan lalu sempat ramai kembali terganggunya pasokan listrik Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Jawa Barat dan Jawa Tengah, akibat terbakarnya pohon sengon yang tetap berada di bawah jaringan listrik.

Apalagi dengan banyaknya keluhan siswa maupun orang tua siswa yang mengaku merasa kerap pusing bila berada di sekolah.

Oom Komariah (41) salah seorang orang tua siswa yang megaku, dirinya merasakan sering pusing kepala jika berada di lingkungan sekolah lebih dari 5 jam.

Ia pun kerap mendengar suara gemuruh dari jalur kabel SUTET manakala cuaca berawan dan hujan.

“Saya yang setiap hari menunggui anak disekola memang merasa sedikit pusing kepala, pening. Mungkinkan ini efek radiasi berada lama di bawah jaringan SUTET,” jelas Oom. (Aris Mohamad F)***

 

Diskusikan di Facebook