Terhubung dengan KAPOL

BUDAYA

Sultan Patrakusumah VIII Menginginkan Selacau Jadi Wilayah Istimewa

|

KAPOL.ID – Sultan Rohidin sudah jadi sabiwir hiji. Namanya sudah tersohor bukan saja di Tasikmalaya. Tetapi sudah melampaui Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire yang riuh dibicarakan baru-baru ini.

“Kami ingin Selacau dijadikan wilayah istimewa seperti kesultanan lain di Jogjakarta,” katanya suatu ketika di kampung Nagaratengah, Desa Cibungur, Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya.

Rohidin mengukuhkan dirinya dengan gelar Sultan Patrakusumah VIII, putra mahkota Kerajaan Selacau generasi kedelapan. Sampai sejauh ini, Kesultanan Selacau baik-baik saja. Tidak ada yang memperkarakan.

Menjelang Pemilu Presiden tempo hari, bahkan Sultan Patrakusumah VIII sempat digadang-gadang menjadi kandidat presiden alternatif. Disuarakan dengan lantang dan terbuka.

“Dasar kami adalah budaya, kami akan memberitahu kepada orang yang belum tahu, dan mengajak warga masyarakat yang merasa orang Sunda untuk peduli terhadap budayanya,” ujar Sultan menegaskan.

Baca juga: Asal-Muasal Disebut Kesultanan Selacau

Belakangan, Selacau diakui sebagai destinasi wisata di Kabupaten Tasikmalaya. Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat memuat selayang pandang Selacau dalam situs resminya. Dilansir dengan terang benderang.

Di kawasan itu disebut-sebut ada situs dengan tinggalan berupa makam dan gua. Di antaranya di gunung Pasanggrahan. Makam berbentuk punden berundak terdiri atas tiga bagian. Batas antara makam satu dengan makam lainnya berupa tangga.

Raja atau sultan disimbolkan dalam bentuk makam atau petilasan yang berada paling atas di antara makam-makam lain. Sedangkan pada tahap kedua adalah simbol orang-orang yang dekat dengan raja atau sultan seperti para adipati atau para penasehat raja. Tahap ketiga disimbolkan sebagai makam prajurit yang setia kepada raja pada zaman Hindu atau sultan pada zaman Islam.

Batu-batu yang digunakan pada setiap kelompok makam adalah batu-batu menhir atau susunan batu yang berdiri tegak. Selain susunan batu yang berdiri tegak juga susunan batu seperti dolmen yang tersusun rapih membentuk altar.

Di sebelah barat kesultanan — kampung Cikondang Desa Karya Bakti — terdapat peninggalan dalam bentuk batu. Di dalam salah satu gua terdapat batu uncal yang konon dahulu menjadi penyembahan. Di beberapa dinding gua terdapat tulisan-tulisan dengan huruf Sunda Kuno. Fakta itu dianggap pertanda, di kawasan itu ada aktivitas masa lalu.

Diskusikan di Facebook

1 Pesan

  1. Pingback: Asal Muasal Disebut Kesultanan Selacau | kapol.id

Silakan mengirim pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *