Connect with us

OPINI

Kalau Pasar Singaparna Ketat, Kebayang Pada Ribut

|

Oleh Amin R. Iskandar

Pasar Singaparna makin padat saja. Idulfitri tinggal hitungan hari. Kurang dari jumlah jari pada sebelah tangan. Toko pakaian jadi buruan banyak orang. Berjejalan. Tak perhatikan jarak fisik.

Dari berbagai saluran media, publik tahu kalau pemandangan serupa terjadi hampir di semua pasar, di kabupaten/kota se-Indonesia. PSBB cuma cerita. Memakan anggaran yang pasti sangat besar.

Kaum yiyirin, jangan tanya berapa jumlahnya(?) Berjubel di media sosial(!) Saya juga suka nyinyir. Sesekali. Kalau kebetulan lagi kesal.

Habis nyiyir, kadang timbul rasa sesal. Merasa jadi orang kurang kerjaan. Biar nyinyir, keadaan tak kunjung berubah. Tambah-tambah dosa saja. Mengotori ibadah puasa. Tapi, nyinyir itu asyik juga.

Kadang hati mendumel, “Sombong amat, sih, jadi orang. Kalian punya berapa duit? Nggak bisa nggak beli baju barang sekali lebaran saja? Kalaupun sangat ingin beli baju, perhatikanlah protokol kesehatan. Berhenti juga ‘mengemis’ minta terdata penerima bantuan!”

Pada posisi ini, saya tidak bisa mengumpat dengan kalimat, “Ke masjid takut, tapi ke pasar berani. Licik!”

Saya tidak bisa begitu, karena tidak bisa memastikan “orang yang berjejalan di pasar itu sama dengan orang yang mendadak tidak ke masjid di masa wabah”.

Boleh jadi, yang berjejalan di pasar itu orang-orang yang memang tidak hobi ke masjid. Sementara yang rajin ke masjid memilih taat anjuran, beribadah di rumah dan selalu menjaga diri. Ke luar rumah (kampung) seperlunya. Demi kemaslahatan banyak orang.

Saya mafhum banyak orang berharap pembatasan aktivitas sosial bisa ketat. Tapi, sebuah obrolan di halaman parkir mengusik pikiran saya.

Kata seorang tukang parkir, “Ada untungnya juga di Singaparna tidak ketat. Kalau ketat, kebayang bakal pada ribut. Seperti di daerah-daerah lain.”

Tukang parkir zaman now gitu, lho. Biar tukang parkir, sebagain dari mereka ada yang punya gawai. Video mudah mereka akses. Termasuk video yang mudah viral: pertengkaran antara pembelanja dengan aparat keamanan.

Saya juga ngobrol sama aparat kepolisian. Mereka mengaku kesulitan mengendalikan massa. Kesadaran masyarakat masih rendah. Himbauan tinggal himbauan. Polisi juga sama dengan yang lain, ingin tenang beribadah di bulan Ramadan.

“Gimana lagi, sudah tugas. Kadang suka emosi juga, sih. Karena dengan kondisi seperti ini kami sering jadi sasaran yang disalahkan. Kami terus berusaha memberi penjelasan pada masyarakat,” kata seorang polisi.

Memang, pertengkaran terjadi karena sama-sama keukeuh. Satu sama lain enggan bekerja sama. Padahal, kalau mau bekerja sama, mudah saja kan bicara baik-baik. Saya percaya, kita tidak bakal kekurangan diksi untuk sampai pada titik temu.

Tapi, ya, hawa nafsu memang sulit dibendung. Tampaknya, makna puasa belum benar-benar berbekas dalam hati. Puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, menahan diri dari segala kemewahan.

Puasa itu untuk kita belajar hidup dalam segala keterbatasan. Melatih kesadaran, bahwa hingga titik tertentu, manusia butuh menyamakan perasaan. Ajaran agama jauh-jauh hari mengajarkan, “status kita sama, kecuali ketakwaan”.

Pasar Singaparna makin padat saja. Mungkin bakal begitu sampai sehari menjelang lebaran. Apalagi duit bantuan berangsur turun.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *