Kota Tasik dalam 30 Perspektif Penulis

  • Bagikan
Peluncuran buku Kota Tasik dalam Ragam Perspektif di Balroom Asia Plasa, Minggu (17/10/2021).*

KAPOL.ID –
Sebanyak 30 penulis memberi kado HUT ke-20 Kota Tasikmalaya dalam sebuah buku Kota Tasik dalam Ragam Perspektif.

Peluncuran buku ini berlangsung di Balroom Asia Plaza, Minggu (17/10/2021) sore.

Perwakilan Penulis, Edi Suroso mengatakan, mendapat tantangan untuk berbakti kepada Kota Tasikmalaya.

“Saya menulis tentang Kota Tasik untuk menaikkelaskan UMKM-nya. Butuh pengetahuan dan transformasi.”

“Apalagi pengusaha Tasik itu tak pernah patah arang. Tapi untuk naik kelas itu butuh inovasi dan harus bersaing,” ucapnya.

Editor buku Kota Tasik dalam Ragam Perspektif, Asep M Tamam mengatakan, gagasan atau ide membuat buku spontanitas H. Yusran Arifin.

“Dia mungkin tak berdaya mewujudkan gagasan menjadi sebuah karya. Tapi gagasan menghadirkan buku ini tetap paling mahal,” katanya.

Gagasan tersebut, bak gayung bersambut bersama 30 penulis lainnya dari berbagai latar belakang.

“Tak sampai dua minggu hingga tuntas editing. Luar biasa para penulis memberikan tulisannya walaupun tak dibayar,” jelasnya.

Wali Kota Tasikmalaya, H. Muhammad Yusuf mengapresiasi buku Kota Tasik dalam Ragam Perspektif sekaligus menjadi kado istimewa HUT ke-20 Kota Tasikmalaya.

“Ini menjadi inspirasi bagi kita dan masyarakat semua. Saya yakin banyak masukan agar kota ini lebih baik lagi,” ujar Yusuf.

Walaupun masa jabatan menjadi Wali Kota Tasikmalaya tinggal 1 tahun lagi, Yusuf alan bekerja keras untuk melakukan berbagai perbaikan.

Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Aslim mengatakan, buku tersebut menjadi motivasi dan energi positif untuk lebih mencintai Kota Tasikmalaya.

“Luar biasa untuk para penulis buku ini. Saatnya bahu membahu membangun Kota Tasik lebih baik lagi,” katanya.

Buku setebal 322 halaman ini memuat Kota Tasikmalaya dari berbagai perspektif penulis.

Ruang publik oleh Hendri Hendarsah, tangan kreatif oleh Bambang Arifianto. Religiusitas oleh Asep M Tamam.

Dunia pendidikan oleh Nizar Machyuzaar Eugen, Ilam Maolani, Inda Hindasah dan Alfin. Ekonomi oleh Edy Suroso dan Asep Chahyanto.

Kesehatan oleh Asep Sufyan, sosial politik oleh Yusuf Abdullah, Dadan Alisundana, Maulana Janah dan Mang Eper, gender oleh Hotum Hotimah.

Lalu sejarah oleh Muhajir Salam, Iwan R Jayasetiawan Neo dan Adi Hasriadi. Seni dan budaya oleh Nazarudin Azhar, Bode Riswandi, Irvan Mulyadie dan Yusran Arifin.

Pertanian oleh Dedi Sufyadi, olahraga oleh Irvan Chris, pariwisata dan kuliner oleh Iwoq Abqory dan Rino Sundawa Putra.

Aktivis dan pemuda oleh Taufik Rahman, komunitas oleh Vudu Abdul Rahman, mahasiswa oleh Wafa Amrillah dan Suminar Wili. ***

  • Bagikan