Pro dan Kontra Vaksinasi Covid-19

  • Bagikan

Muhammad Muqla Syauqy Tamam
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Covid-19 tiba di Indonesia pada bulan Maret 2020. Tak ada yang menduga sebelumnya. Kedatangan Covid-19 ini mengubah tatanan kehidupan bukan hanya umat manusia di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Covid-19 di satu sisi menjadi musibah internasional. Tapi di sisi yang lain juga diterima sebagai tantangan. Manusia dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi pikirannya agar mampu menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Maka mereka yang menerima Covid-19 ini sebagai tantangan kita bisa melihat banyaknya kreasi-kreasi baru. Betapa hidup dan maraknya jual beli dengan berbasis online.

Kita tidak tahu tentang covid ini akan berakhir sampai kapan. Yang kita tahu bahwa semakin ke sini Covid-19 semakin menggila dan meraja. Di Indonesia, pertambahan korban dari paparan virus ini setiap saat setiap hari terus meningkat dan tidak bisa dikendalikan.

Alih-alih pemerintah melakukan pemberlakuan PSBB atau kebijakan-kebijakan lainnya, justru masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan mendesak untuk bisa bertahan hidup. Sebagian berupaya untuk bisa meningkatkan penghasilan harian. Jika tidak ada solusi yang tepat, Covid-19 akan terus melonjak dan semakin sulit dikendalikan.

Maka sebagaimana sejarah tentang virus yang terus berulang di dunia, nama-nama baru virus akan muncul. Kita dulu mengenal dulu ada virus ebola, rabies, flu burung, HIV, dan lainnya. Umumnya virus-virus ini bisa diakhiri dengan –salah satunya– dengan vaksinasi.

Kehadiran vaksin menjadi kebutuhan masyarakat dunia. Kini vaksin tengah dinantikan warga untuk upaya meminimalisir jumlah korban selanjutnya, atau bahkan menghilangkannya. Corona virus harus dihentikan.

Salah satu hasil ‘ijtihad’ para politisi, para pemimpin, para ahli kesehatan, menyebutkan bahwa vaksin sebagai salah satu faktor penting untuk bisa mengendalikan laju Dari Covid-19 ini. Vaksin bermanfaat sebagai pelatih untuk tubuh agar bisa mengenali virus yang membahayakan. Vaksin bekerja untuk mematikan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Maka beberapa negara menciptakan vaksin ini. Ada Amerika, Rusia, Cina dan lain-lain. Negara-negara ini berlomba mencipta dan memasarkan vaksin Covid-19. Vaksin merupakan karya intelektual yang kemudian mampu menjadi penambah pemasukan negara. Semakin baik khasiatnya dan semakin kecil efek sampingnya, ia akan semakin laku dan dibeli oleh negara-negara lainnya.

Masalah Vaksin di Indonesia
Di Indonesia, masalah vaksin ini belum tuntas. Dari dulu sampai hari ini masyarakat Indonesia ada yang menerima vaksin dengan seutuhnya. Ada juga yang anti memakai vaksin. Ada juga yang memakai vaksin alakadarnya.

Jadi kriteria masyarakat Indonesia menghadapi vaksini ini ada tiga. Yang pertama adalah yang menerima vaksin sebagai salah satu penunjang yang bisa mengendalikan laju virus. Yang kedua adalah yang anti terhadap vaksin. Yang ketiga, menerima tanpa fanatisme atau menolak tanpa fanatisme. Bagi masyarakat Indonesia, juga di dunia, vaksinasi dilakukan sejak bayi. Lebih dari 5 vaksin yang disuntikkan kepada anak-anak. Ada anak yang menerima vaksin-vaksin secara tuntas. Ada yang sama sekali tidak divaksin. Ada juga hanya mengambil sebagian saja.

Pro kontra masalah vaksin ini dilatarbelakangi oleh banyak hal. Di antaranya adalah fanatisme agama. Sebab lain karena politik. Masyarakat di Indonesia yang anti terhadap vaksin ini memiliki latar keagamaan fundamentalis. Mereka beranggapan bahwa vaksin ini haram. Mereka memandang vaksinasi ini adalah memasukkan penyakit kedalam tubuh. Sementara mereka yang membolehkan vaksin itu juga memiliki argumentasi yang sangat kuat, di mana vaksin dipakai, disuntikkan, atau dimasukkan ke dalam tubuh, dengan konsep yang berbasis kepada hasil riset dan penelitian.

Di Indonesia terutama tentang vaksin Covid-19 ini sudah mengalami advokasi atau pengawalan yang ketat. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang halal dan sucinya vaksin Covid-19. Kemudian juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) mengeluarkan rekomendasi tentang halal dan tidak berbahayanya vaksin. Vaksin ini secara medis memiliki isi kandungan yang halal dan juga memenuhi syarat untuk disuntikkan kepada masyarakat yang memenuhi unsur dan kriteria tertentu.

Pro kontra masalah vaksin ini Indonesia menghadapi vaksin Covid-19 ini ternyata juga didasari oleh pilihan politik di mana ada dua arus besar, arus utama atau mainstream yang sampai saat ini belum tuntas memperdebatkan permasalahan-permasalahan yang terjadi.

Kembalikan Segala Sesuatu Kepada Ahlinya
Masyarakat dunia hari ini sudah mulai divaksin. Ada 29 negara yang sudah memulainya. Dari mulai negara Cina, negara-negara di Amerika, Eropa, Afrika, dan juga negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, UEA, Mesir, Turkey, dan lain-lain. Di Arab Saudi, raja Salman juga sudah divaksin. Di Turkey, presiden Recep Tayyip Erdogan juga sudah divaksin, bahkan dia juga memakai Sinovac seperti vaksin serupa yang dipakai di Indonesia. Di Indonesia, Presiden republik Indonesia, Joko Widodo divaksin dengan Sinovac ini.

Menurut saya, vaksinasi merupakan sesuatu yang tidak penting diperdebatkan apalagi secara politis. Menerima atau menolak Vaksinasi tidak boleh didasarkan karena keberpihakan politik. Vaksin yang sekarang ini harus digalakkan dan di tujukan kepada masyarakat Indonesia secara memiliki unsur-unsur “Iqra!” yang diajarkan dan ditradisikan dalam agama Islam. “Iqra!” dalam pandangan para ulama bukan sekedar membaca, tetapi meneliti dan meriset.

Vaksin dengan segala plus dan minusnya adalah hasil kerja dari penelitian yang melibatkan proses keilmuan yang mendalam. Kita bisa memilih divaksin atau tidak karena harusnya berbasis kepada keilmuan. secara Segala permasalahan kehidupan harus dikembalikan kepada ahlinya. Bertanya tentang agama kita tujukan kepada para ulama. Bertanya tentang biologi kita tunjukan pertanyaan kepada ahli biologi. Bertanya tentang dunia kesehatan kita juga tujukan pertanyaannya kepada para dokter. Masalah vaksin juga tentu kita tujukan pertanyaan kepada ahli vaksin dan ahli epidemi dan pandemi.

Hari ini dunia kesehatan dan para ahli vaksin telah mengeluarkan keputusan bahwa vaksin menjadi salah satu upaya maksimal untuk bisa mencegah seseorang dari paparan virus Corona. Maka solusi atas permasalahan boleh dan tidaknya kita memakai vaksin adalah dikembalikan kepada jalur keilmuan bukan kepada jalur politik.***

  • Bagikan