Setahun Hilang, Bergabung Komunitas Punk, Seorang Anak Ditemukan di Tegal

  • Bagikan
Hilang selama setahun, sempat tergabung komunitas punk, seorang anak asal Kabupaten Tasikmalaya akhirnya dapat kembali ke tengah keluarganya.

KAPOL.ID–Seorang anak laki-laki asal Kabupaten Tasikmalaya, berusia 11 tahun, sempat dinyatakan hilang selama setahun. Kini dirinya sudah kembali ke tengah-tengah keluarganya.

Memon mengharukan berlangsung di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (6/4/2021). Anak dan ayahnya bertemu setelah lama menahan rindu. Mereka berpelukan.

Anak itu diberitakan hilang sejak April 2020. Kelurganya mencari ke mana-mana, namun sulit menemukan jejeknya. Hingga akhirnya melapor ke pihak kepolisian dan KPAID Kabupaten Tasikmalaya.

“Laporan tersebut menjadi pekerjaan rumah kami untuk melakukan pencarian selama setahun terakhir. Sampai kami mendapatkan laporan bahwa anak tersebut posisinya di wilayah Kota Tegal,” terang Ketua KPAID, Ato Rinanto.

KPAID Kabupaten Tasikmalaya segera menelusuri kebenaran berita tersebut. Di samping mengecek administrasi, juga mengonfirmasi ke Polres Kota Tegal. Jawabannya positif.

“Saat kami memverifikasi administrasi, ternyata anak yang berada di Kota Tegal itu merupakan anak yang dinyatakan hilang setahun yang lalu,” ujarnya.

KPAID pun bertolak ke Kota Tegal untuk menjemputnya. Dari Kota Tegal juga terhimpun informasi, bahwa si anak terjaring operasi Satpol PP Kota Tegal. Saat itu ia tergabung dalam kemunitas anak punk.

“Pada saat razia, anak ini terpisah dari rombongan, karena yang lain usianya sudah dewasa dan berhasil melarikan diri. Anak ini tertangkap dan diserahkan ke polisi,” lanjutnya.

Di kantor polisi, si anak terus menangis. Kepada polisi dirinya mengaku berasal dari Kabupaten Tasikmalaya. Komunikasi pun terjalin antara Polres Kota Tegal-Polsek (asal si anak)-Polres Tasikmalaya Kota-Kepala Desa-KPAID.

Dari hasil investigasi KPAID, komunitas anak punk itu sampai di Kota Tegal dengan cara naik-turun kendaraan tumpangan. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah papalidan.

Baru sepekan di Tegal, sejatinya si anak menginginkan pulang. Namun ia merasa bingung. Karena lingkungannya betul-betul asing. Hingga larut lebih lama dalam komunitas punk setempat.

Ato menjelaskan bahwa dugaan faktor penyebab kenekatan anak-anak itu antara lain pola asuh orangtua yang kurang maksimal. Tak kunjung mendapat kenyamanan di rumah, si anak mencarinya di luar.

“Alhamdulillah sekarang anak ini sudah kembali ke keluarganya. Kami tetap akan melakukan pengawasan, baik pola asuh anak maupun lainnya,” lanjutnya.

Atas kejadian tersebut, KPAID berharap seluruh orangtua dapat berhati-hati menjaga buah hatinya. Anak-anak perlu merasa aman di tengah keluarga.

Ayah kandung si anak sendiri mengaku terharu, karena dapat bertemu kembali dengan anaknya. Ia sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah berupaya mencari keberadaan anaknya.

“Sebelumnya, anak kami ini tidak pernah bergaul, apalagi pergi bersama orang yang tidak dikenal. Kalau bermain, ya, di sekitar rumah saja. Kalau mau pergi juga selalu pamit,” katanya.

Si ayah tidak tahu pasti apa penyebab anaknya nekat pergi dan mengikuti kelompok yang baru dikenalnya. Setelah si anak kembali, ayahnya berjanji akan merawat dan mengasuhnya dengan lebih baik.

  • Bagikan