Ruang Belajar SDN Kahuripan Pamijahan Terancam Ambruk

Kondisi salah satu ruang belajar SDN Kahuripan Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya.*

KAPOL.ID-
Kondisi ruang belajar SDN Kahuripan, Kampung Panyalahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya memprihatinkan.

Satu ruangan belajar sudah dua tahun tidak dipakai aktivitas belajar karena dianggap bisa membahayakan anak-anak yang sedang belajar. Apalagi akhir-akhir ini kerap turun hujan.

Kepala SDN Kahuripan, Asep Ali S.Pd menjelaskan, jumlah siswa SDN Kahuripan seluruhnya ada 129 siswa. Sebanyak 78 siswa belajar di tiga ruang belajar juga kondisi bangunan sudah tidak layak pakai.

Sedangkan yang satu ruangan lagi, total sudah dua tahun sejak ada pandemi Covid tidak dipakai lagi.

“Karena satu ruangan tidak dipakai, siswa terpaksa belajar di luar, atau di halaman. Ya dimana saja yang sekiranya nyaman dipakai untuk belajar,” jelas Asep ditemui di kantornya.

Asep menambahkan sebenarnya SDN Kahuripan sudah masuk alokasi anggaran sekolah yang akan direhabilitasi total. Bahkan sudah diverifikasi dan dikontrol dari Dinas PUPR sebelum pandemi Covid 2022.

“Katanya sih tahun 2022 dana untuk rehabilitasi total untuk 4 ruangan akan turun. Namun hingga akhir bulan ini belum juga ada realisasinya. Bahkan dalam ajuan rehabiiltasi total, termasuk untuk ruang perpustakaan,” kata Asep.

Dia berharap dinas terkait memperhatikan kondisi ruang belajar SDN Kahuripan. Karena khawatir dengan keselamatan anak-anak. Setiap hari dihinggapi ketakutan bangunan ambruk.

Kepala Dusun Panyalahan, Badrusalam membenarkan kondisi ruang belajar sekolah tersebut.

“Kondisi bangunan yang 4 lokal memang sudah tidak layak untuk dipakai kegiatan belajar mengajar. Terutama yang satu ruangan tidak dipakai lagi.”

“Karena sangat membahayakan dan mengancam jiwa anak,” jelas Badrusalam yang sempat menjadi Ketua Komite di SDN Kahuripan.

Di tempat berbeda, tokoh muda Kampung Panyalahan Aep, rumahnya tidak jauh dari lokasi sekolah, membenarkan kondisi tersebut.

Dia meminta pihak terkait memperhatikan kondisi bangunan sekolah tersebut yang sudah tidak layak lagi digunakan untuk aktivitas belajar dan mengajar.

“Jangan sampai menunggu korban jiwa, orangtua siswa di sini sangat tidak mengharapkan hal itu terjadi,” tandas Aep, ditemui di rumahnya.***